
Bagi saya, Agustusan kali ini hambar, biasa saja, melebihi tahun lalu. Ini soal impresi. Sangat subjektif. Di RT saya juga saya rasakan biasa saja. Saya tak terlibat. Padahal beberapa tahun lalu istri saya berkostum gerilyawan, entah pinjam siapa, merayakan di lapangan.
Salah satu penyebab saya merasa biasa saja adalah saya merasa Indonesia tidak baik-baik saja, kepercayaan saya terhadap pemerintah makin meredup, skeptisisme dan pesimisme saya tentang Indonesia Emas 2045 seperti salah bumbu yang merasuki lele goreng.

Tadi seseorang menemukan karya saya belasan tahun silam seputar HUT Proklamasi Kemerdekaan. Dia heran, mengapa dulu saya bisa. Ya, saya dulu bersemangat membuatnya, tanpa ada yang memerintah, bahkan ketika infografik belum menjadi kebutuhan setiap media.

Dalam perjalanan waktu, infografik saya, tak hanya tentang tujuh belasan, kadang diembat media berita tak jelas, ada bagian yang dipotong, lalu dalam atribusi disebut nama media tersebut, atau paling pol “Istimewa”.
Saya sih maklum saja, sejumlah media kecil yang sekarang sudah terkubur itu kerepotan dalam sumber daya, termasuk untuk mengupah pekerjanya. Padahal sebagian karya saya buat dalam kondisi prihatin, media yang kami buat sedang ngos-ngosan, tetapi kami tetap menghormati hak cipta, misalnya membeli foto dari Antara, dan riset pustaka menggunakan buku, harus membeli, bukan asal cuplik dari blog.

Selain mendesain secara amatiran, saya juga menulis artikel mendampingi karya visual. Saya berada dalam Tim Hangabehi, semua saya borong, sejak riset bahan, menulis artikel, mendesain, dan menulis wara (copywriting) dalam desain. Artinya semuanya hampir saya kabèh, saya semua, begitu kata teman yang menyebut saya bekerja hangebèhi.
Intinya, dulu saya bersemangat. Sekarang tidak. Bukan soal kualitas karya dan seberapa dekat bergema, tetapi dulu saya tergerak ikut merayakan hal baik tentang Indonesia, ikut merawat Indonesia.
Kini terserah mau jadi apa Indonesia untuk anak dan mungkin cucu saya kelak, karena saya sudah tak akan mengalami.


4 Comments
Hukuman koruptor dipersingkat karena suka berkebun di lapas, terus kita kudu hepi lihat presiden joget2? Enak aja 😑
Kemarin saya sengaja nyetel kanal Deutsche Welle sejak pagi. Eh pas tengah hari masih nongol juga liputan dari istana 🙈
Saya bahagia, seperti tahun lalu gak ikutin berita 17-an.
Benar sekali, nyaris hambar rasanya. Saya hanya menikmatinya dengan baca Kompas edisi khusus itu dan berkumpul bersama teman-teman kantor lama (ini sedikit menghibur). Istri saya bahkan tidak menonton acara pengibaran bendera di televisi, seingat saya ini yang pertama sejak kami menikah.
Bendera juga dikibarkan beberapa hari sebelum tanggal 17, padahal istri sudah mengeluarkan benderanya dari lemari sejak awal Agustus.
Yah, begitulah. Mungkin bagi orang lain ada yang tak beres dalam alam pikir kita. 🙈