
Saat siang panas memeras gerah dan memompa dahaga, toko elpiji dan air galonan itu barusan tutup. Melihat sebuah minuman dalam gelas di depan pintu saya langsung menduga itu milik pegawai toko. Saya iseng memotretnya. Usai saya menjepret datanglah si pegawai dengan bergegas, muncul dari tikungan. Saya bilang, “Tenang, nggak akan saya ambil, Bang.” Dia tertawa, langsung mencoblos penutup dan menyedot es teh itu.
Tentu saya tak berminat mengambil minuman itu, apalagi saya sedang emoh es. Selain bukan milik saya, saya juga tak tahu itu beracun atau tidak. Secara umum, kalau tak dipersilakan maupun belum permisi, kita takkan mengambil minuman di depan kita. Memang sih saya pernah melihat anak jalanan mengambil minuman utuh maupun minuman sisa, dan saya memakluminya karena norma yang membentuk mereka berbeda.

Apakah saya pernah mengambil minuman yang bukan hak saya? Ya. Antara lain dari dus minuman dalam kendaraan taktis militer saat saya berlindung dari hujan batu massa dan amuk pentungan aparat. Saya mengambil sebotol lalu bilang, “Maaf nih saya haus. Boleh kan?” Seorang serdadu mengangguk.
Dulu di kantor lama sebelum yang terakhir sering ada acara obrolan. Tersedia penganan dan minuman, kadang sumbangan sponsor. Mas OB menandai selalu ada rombongan pemotor yang datang, lima-tujuh orang, lalu antre makanan, dan pulang, setiap orang membawa lebih dari sebotol minuman ringan, terutama Coke, dimasukkan ke bagasi motor. Tak ada yang kenal siapa mereka karena mereka tak menyimak obrolan maupun meriung dengan hadirin lainnya. Mereka akan haus nanti atau besok.

6 Comments
Karena gampang pilek, saya sejak lebih dari 10 tahun lalu sangat jarang minum es — apapun jenisnya. Saat tiap pekan menemani dua cucu ngiras alias dine in di sebuah kedai es krim, saya tak pernah ikut minum eh makan es krim, hanya menemani mereka berdua menikmati es krim sambil ngobrol ngalor ngidul ngetan ngulon.
Saya masih menikah es kalo pengin, tapi itu pun jarang.
Di rumah saya gak minum air anyes, malah sering air hangat. Kalo pengin banget ya bikin es teh
Saya membatasi banget untuk minum minuman dalam kemasan begini. Ngeri sama gulanya. Mau gula lokal ataupun gula import.
Idem. Kebetulan saya sejak kuliah suka teh tawar dan kopi pahit.
Tapi kalo teh poci ya pake gula batu dikit. Belum tentu sebulan sekali.
Kirain cuma di kondangan aja ada orang numpang makan, di Obsat juga ya wkwk.
Obsat keren, interaktif dengan memanfaatkan tagar 😃👍
Bukan cuma di kondangan. Di acara seminar yang bukan di hotel, tapi di aula instansi pemerintah yang letaknya nggak misah tapi di salah satu lantai gedung, peserta seminar terutama pembicara yang serampung sesi masih ngobrol bisa kehabisan nasi dan lauk karena karyawan dari sekian lantai ikut makan siang 🫣