—
Pagi tadi saat saya bangun lalu membuka jendela dan pintu, udara cerah, mentari bersinar, suhu terasa mulai hangat, padahal kemarin sore dan tadi malam hujan deras, dengan hawa dingin untuk ukuran Kobek. Saya sengaja tak memutar musik.
Suara musik dari Spotify dan sepiker Bluetooth dapat saya tunda. Sayang jika saya melewatkan kicauan burung yang terdengar lebih ceriwis dan ceria. Entahlah ini hanya kesan atau nyata, Rudy Ndobos pasti bisa menjelaskan.
Selama ini saya beroleh kesan bahwa sehabis hujan lama, lalu pagi cerah membuka hari, kicauan burung lebih ramai dari biasanya. Mereka adalah paduan suara alam. Bahwa ada yang merekamnya lalu mengolahnya dengan MIDI untuk musik kedai, agar terhindar dari bayar royalti, seperti kata berita saat ini, ya silakan saja.
Saya bersyukur masih ada suara burung di kompleks saya. Entah sampai kapan. Tentu saya juga kesal dan menyayangkan jika ada orang menembaki maupun menangkapi burung. Sebelas tahun silam saya menjumpai penembakan burung atas nama keisengan. Kenapa si pelaku tak iseng dengan menembak burungnya sendiri dalam celana?


4 Comments
Suara burung tiap hari saya dengar dari seberang rumah. Pemiilik rumah, bapak sepuh 80 tahun lebih, punya 16 burung perkutut — 10 di antaranya dibelikan puteranya via TikTok
Suara perkutut memberi rasa ayem tentrem. Konon demikian.
Di SMA Gonzaga Jakarta kalau pagi ramai suara tekukur liar dari pepohonan di sana. Setidaknya dulu. Entah sekarang.
Betul sekali Mas Paman, di pagi yang cerah setelah malamnya hujan burung memang lebih ramai bersuara terutama para pemakan serangga, karena ada banyak serangga yang keluar. Burungnya juga sibuk menandai teritorinya agar tidak diserobot burung yang lain.
Oh terima kasih, Rud 👍👏🙏💐