Baut dengan mur tajam

Dari mana manusia belajar menyiksa manusia lain yang sudah tak berdaya?

▒ Lama baca < 1 menit

Mur baut yang melukai pada sebuah kursi — Blogombal.com

Karena kehabisan kursi di sebuah pojok meriung, saya terpaksa menduduki satu-satunya kursi kosong hasil restorasi barang rusak. Mata saya melihat ada sekrup mencuat di sudut kanan dan kiri pada bagian depan tatakan tanpa jok, namun saya anggap pantat saya bisa menyiasatinya. Saya yakin, pereparasi kursi ini tak bermaksud melukai orang lain.

Oh ya, tatakan kilap stainless itu sudah disemprot cat hitam berkilau. Ketika saya menggeser posisi duduk, bagian bawah paha saya menggesek sesuatu yang tajam.

Untunglah saya memakai celana jin. Misalnya saya menaksir celana tipis seperti legging atau pantalon halus, pasti lebih terasa, dan kainnya pun ada kemungkinan robek.

Tetapi lamunan saya malah ke arah lain, jauh sekali. Ya, jauh namun dekat dalam arti relevan. Hari itu, pagi sebelumnya, saya mengikuti ibadah Jumat Agung. Saya membayangkan luka Yesus sejak ditangkap, memanggul salib, hingga dilukai dengan dipakukan pada salib, termasuk ditusuk rusuknya hingga keluar dan dan air, pasti amat jauh lebih menyakitkan.

Mur baut yang melukai pada sebuah kursi — Blogombal.com

Saya tak hendak membahas renungan teologis. Saya tak habis pikir kenapa manusia selalu menemukan cara untuk menyiksa sesamanya yang sudah tak berdaya dengan segala jalan.

Bagaimana manusia mempelajarinya? Tebakan kita mungkin sama: manusia belajar dari rasa sakit, sekecil apa pun, yang dialaminya.

Dorongan berikutnya dan pewujudannya, bahkan sampai tahap yang belum pernah kita bayangkan, dapat dijelaskan oleh psikologi.

Kadang saya menonton video singkat tentang satwa di alam liar. Ada kekerasan merusak yang dilakukan pemangsa agar lebih mudah menyantap mangsa. Hal itu dilakukan secara naluriah, tanpa belajar khusus.

Tetapi binatang piaraaan bisa menyerang lawan untuk merusak tubuhnya tanpa memakannya, mungkin karena proses domestikasi leluhurnya selama ribuan tahun. Misalnya anjing tertentu terhadap anak ayam. Ini juga karena naluri. Demikian pula saat anjing menggigit manusia.

Dalam diri manusia juga punya unsur animal. Dorongan mula-mula yang mentah itu disebut primitif. Tetapi manusia mengenal akal budi, lalu evolusi membentuk norma dan nilai-nilai kehidupan.

Replika mahkota duri Yesus di Museum Alkitab LAI Jakarta — Blogombal.com

Tinggalkan Balasan