Nyeni bongkahan dalam bongkaran

Sesuatu yang dianggap nyeni itu bersifat abadi atau sementara?

▒ Lama baca < 1 menit

Puing bekas bangunan di Taman Budaya Sentul — Blogombal.com

Apa yang disebut nyeni bisa menjadi perdebatan tanpa bersudah. Beda kepala beda tilikan. Maka apa yang saya pergoki kemarin senja, menjelang pukul enam, di sebuah taman berisi aneka kedai, setelah hujan reda, tampak nyeni.

Dalam amatan tanpa ilmu detektif, apa yang tampak pada sebidang tanah berisi bekas bangunan itu bukanlah sisa malapetaka tak terhindarkan. Itu pasti bangunan yang dirubuhkan. Bukan tapak jatuhan kapal terbang. Bukan pula jejak ledakan bom. Lingkungan sekitar masih utuh. Pohon tetap tegak. Tak ada guguran daun karena dipaksa. Tak ada kepingan genting berserakan. Tentu dengan catatan jika atapnya menggunakan genting, bukan lembaran UPVC atau metal.

Lalu di mana nyeninya? Karena bangunan kedai di sekitarnya, yang rapi dan tertata, seperti membingkai lahan berisi bongkahan bekas rumah. Sayang saya tak mampu membekukan kontras itu dalam gambar. Bahkan mencoba melakukannya, dengan memotret, pun tak saya tempuh. Cuaca sudah menggelap. Hasilnya takkan menarik.

Apakah lain hari bongkaran ini masih tampak nyeni di mata saya? Saya khawatir takkan memikat lagi. Mungkin malah mengganggu mata saya. Artinya apa yang saya anggap nyeni lalu saya bekukan itu hanya bersifat sementara.

Lho bukannya sesuatu yang nyeni itu mestinya abadi? Hmm.. entahlah.

Puing bekas bangunan di Taman Budaya Sentul — Blogombal.com

Tinggalkan Balasan