
Aneh, pikir saya. Mentang-mentang tinggal di Bogor yang berjuluk Kota Hujan, pemilik sepeda ini tak mengerudungi sadel dengan plastik. Dibiarkannya sadel sepeda di luar rumah itu basah.
Tetapi kemudian saya tersadar. Bukankah sadel basah bisa diseka dengan lap? Lagi pula sadel ini tak seperti sadel belakang Vespa, atau sepeda motor pada umumnya, yang kalau robek sedikit akan menjadi jalan bagi air hujan untuk mengisi spons di dalamnya, kemudian saat sadel diduduki maka air akan membasahi pantat.
Sungguh itu tadi sebuah lamunan tak penting pada hari kedua Lebaran saat saya sedang sendirian, memisahkan diri sejenak dari reriungan. Lalu benarkah bahwa Kota Bogor, Jabar, adalah Kota Hujan?

Data curah hujan antarkota di Indonesia 2024, yang dikutip oleh CNBC Indonesia (3/3/2025) dari BPS, menunjukkan dari sepuluh kota maka curah hujan Bogor di peringkat ketujuh (4.812,2 mm/tahun). Adapun peringkat teratas adalah Kabupaten Mimika, Papua Tengah (6.610,5 mm/tahun).
Tentu untuk memastikan mana yang tertinggi harus membandingkan data antarwaktu dalam suatu rentang panjang. Namun bagi saya lebih penting mensyukuri masih bisa melamun dan berbelok pikiran ke mana saja lalu mencari rujukan.

2 Comments
Ooh mulane ngebloge kether, tanggal 31 Maret ngeblong, ternyata gara-gara Paman ke Kota Hujan, to?
Lha ya kebetulan nengok saudara bareng rombongan