Selama ini kadung tertanam pengertian dalam benak bahwa mengairi tanaman itu hanya berlaku untuk padi. Kebetulan saat kecil, sampai kelas dua SD, saya sering pulang sekolah memintas area persawahan. Bapak saya kadang mengajak saya berjalan-jalan di sawah, untuk dipotret.
Bahkan sebelum TK saya kadang ngeluyur sendiri ke sawah, bertegur sapa dengan petani yang sedang beristirahat di dangau. Pernah juga saya ditawari makan siang yang dikirim dari rumahnya. Sebenarnya dunia sawah bukan bagian dari hidup saya karena orangtua saya bukan petani.
Hari-hari ini, sekitar Lebaran, saya mengairi tanaman pagar. Saya bukan perawat tanaman yang bertanggung jawab, namun senang mendapatkan ide dari seseorang berlatar petani dari Ciamis, Jabar.
“Daripada repot nyirami taneman yang ini, mendingan diairi aja tanahnya sampe tergenang, Pak. Taneman ini butuh air, kuat direndam,” kata Uwa Endang.
Maka dua hari sekali tanaman Lee Kuan Yew ini saya airi sampai tergenang. Pot tanaman berupa ceruk di atas pagar tembok. Sejauh ini tanaman tak pernah mati karena akarnya membusuk akibat overwatering. Apakah cara saya benar, saya tidak tahu. Namun terbukti saat kemarau tanaman tak layu.
3 Comments
Sebelum TK kadang ngeluyur sendiri ke sawah? Wah, kendel tenan!
Saya sejak dulu suka ngeluyur sendiri. Tapi waktu itu kan aman, gak ada predator. Anak kecil gak pake jam tangan maupun hape.
Kadang saya ke area sawah yang lain, ke kali dangkal yang airnya gak keruh, dsb. Kadang dikeroyok anak lokal, dijitak, ya nasib. Kalah jumlah. Kalah umur.
👍