
Selebaran kertas, berupa katalog belanja, rupanya masih laku. Medianya bisa dipegang, disimak, tanpa terdistraksi hal lan seperti saat Anda menyimak katalog digital pada ponsel.

Selebaran supermarket Tip Top Pondokgede, Kobek, ukuran A4, setebal 20 halaman, plus satu lembar sisipan, ini saya terima dobel, seperti selebaran lain, misalnya kedai burger, mungkin karena si penyebar ingin pekerjaannya lekas tuntas.
Bagi saya, selebaran supermarket ini berguna. Kalau sempat, dan muncul rasa iseng, saya baca isinya. Namun membaca atau tidak, kertas ini berguna untuk alas ini itu dan bungkus. Artinya tidak langsung jadi sampah.

Tetapi benarkah iklan supermarket di koran sudah lenyap? Tidak. Belum. Lihat saja iklan Superindo di Kompas saban Senin, seperti edisi hari ini (9/9/2024), namun tumben tidak berwarna — yang pasti iklan hitam putih lebih murah daripada kelir. Belasan tahun silam, sejumlah koran edisi Rabu selalu memuat iklan supermarket berisi katalog produk dengan harga.
Oh, supermarket. Saya teringat laporan ekonomi Kompas pekan lalu tentang krisis daya beli kelas menengah. Solusinya antara lain menekan pengeluaran, berburu diskon besar, dan… suami istri berbagi tugas di supermarket.

Saat ada promo belanja murah, begitu pasangan yang jadi narasumber itu tiba di supermarket maka si suami langsung mengantre kasir, tanpa membawa belanjaan apa pun, sementara istri mendorong troli dari rak ke rak, setelah selesai bergabung dengan suami.
Untuk memarkir mobil saja butuh 30 menit, padahal supermarket di Pondokaren, Tangsel, itu sesak, sehingga berbagi tugas pun ditempuh. Alhasil kata si istri, namanya Ria (32):
“Saat membaca tulisan ’Anda telah berhemat Rp 100.000 atau Rp 200.000 atau Rp 300.000’ di struk itu rasanya senang sekali. Memang belanja di sini tidak nyaman. Tapi, pas tahu kami sudah berhemat, rasa lelahnya terbayarkan.”
Eh, tetapi kiat ini etis nggak sih? Ehm, blog ini tempo hari membahas tren warung Madura dan berakhirnya belanja impulsif disertai silaturahmi troli, berupa setiap anggota keluarga mendorong troli masing-masing kemudian bergabung sebelum mengantre kasir. Ketika uang terasa mudah, belanja keluarga pun kurang selektif. Lebih boros.
Kini saldo tabungan kelas menengah menipis. Tetapi kebutuhan, bukan keinginan, terus menagih (¬ lihat arsip yang merujuk laporan keras Kompas dalam kasus Kaesang dan Erina).



