Bermain cupang mencupang lagi

Akhirnya setelah kapok saya memiara ikan cupang lagi. Supaya mereka menyantap jentik-jentik nyamuk demam berdarah.

▒ Lama baca < 1 menit

Bermain cupang mencupang lagi

Senja gerimis nan temaram menjelang buka puasa, di sisi samping sebuah rumah yang sebagian halaman luasnya berlumpur, terlihat dalam baskom di atas lantai jember itu ada sekian kantong plastik.

Si Abang membuang satu per satu kantong, lalu mengatakan, “Tinggal tiga.” Saya tak tahu rupa isi plastik menggembung yang dia angkat itu karena cahaya tak memadai. Lagi pula air dalam kantong itu kotor. Saya hanya bertanya, “Masih idup, Bang?”

Bermain cupang mencupang lagi

Saya lihat ada gerakan dalam kantong butek itu. Berarti ikan di dalamnya belum mati. Kami sepakat harga ketiga ekor ikan cupang itu Rp15.000. “Ati-ati bawanya. Naik sepeda kan?” katanya. Ketiga kantong menggembung itu saya masukkan ke tas kecil yang tergantung pada setang sepeda lipat.

Bermain cupang mencupang lagi

Setibanya di rumah saya baru tahu isinya kemerahan semua. Tak apa. Niat saya membeli cupang memang untuk mengisi vas yang menjadi media tanaman hidup. Kenapa? Supaya saya tak segera mengganti airnya setiap kali terlihat jentik-jentik.

Bermain cupang mencupang lagi

Ya, saya kembali bermain cupang untuk mencegah demam berdarah dengue. Serupa alasan mula-mula seperti sekian tahun silam saat membeli cupang, untuk mencegah DBD, sampai akhirnya saya punya sekian karaf cupang di kantor dan di rumah karena jatuh cinta.

Dulu saya membeli cupang setelah membaca berita pembagia cupang di sebuah kampung di Jakarta. Saat itu kasus DBD sedang tinggi.

Bermain cupang mencupang lagi

Ketiga cupang pertama saya dulu, yang saya beli di pasar ikan hias Slipi, totalnya Rp50.000, saya namai Al, El, dan Dul karena ganteng semua. Mereka sudah almarhum. Sebenarnya hal yang membuat saya sempat jera memiara cupang itu karena tak tega. Mereka tahan menderita karena sakit maupun usia sampai ajal menjemput.

Bermain cupang mencupang lagi

Sebetulnya kemarin itu saya hanya butuh dua cupang untuk dua vas, masing-masing di dapur dan kamar mandi. Tetapi karena ada tiga di baskom penjual yang tempatnya jorok itu, di kampung atas dalam area saya, maka saya pungut semuanya.

Nama-nama cupang itu adalah Pur, karena vasnya di dapur, kepalanya hitam; kemudian Man karena di wastafel kamar mandi, bertubuh biru tua, warna kepalanya lebih gelap, namun siripnya merah; dan terakhir adalah Mu karena saya taruh di ruang tamu, badan dan kepalanya merah namun sebagian siripnya putih transparan.

Mereka senang ketika diajak bicara apalagi jika rumahnya didekatkan satu sama lain. Jangan pernah menyatukan cupang jantan.