Di lorong masuk sebuah rumah duka, yang menjadi bagian dari rumah sakit tua yang bersih dan rapi, tampaklah beberapa handuk yang tercantelkan pada hanger tembok. Saya menduga itu handuk petugas jaga dan satpamwan rumah duka.
Soal handuk ini memang merepotkan, apalagi sebelum ada handuk mikrofiber. Ada sih yang memanfaatkan tisu dapur atau kitchen towel saat bepergian — setiap kali kudu membeli satu rol di minimarket saat akan mandi di stasiun. Dan ada pula yang memanfaatkan chamois, yang bermerek Kanebo maupun lainnya.
Yang menjadi masalah adalah di mana mengeringanginkan handuk di tempat tersembunyi. Saya pernah menjadi doktor — mondok di kantor — sehingga selalu mencari cara dan menemukannya. Bekerja sama dengan OB adalah kunci utama.
Jika tak memakai handuk mikrofiber, jangan menggunakan handuk pantai. Memang harus sering ganti, artinya harus punya banyak handuk — warna putih lebih baik, supaya mata kita risi kalau sudah kotor. Laundry kiloan di sekitar tempat kerja sangat membantu.
Memang, memiliki stok handuk membutuhkan syarat: kita punya ruang penyimpanan, dari loker sampai lemari kerja. Namun itu hanya untuk handuk bersih kering.
Handuk yang sudah dipakai memang memberi kesan jorok. Tetapi itu masih lumayan. Dahulu kala, di sebuah kantor majalah remaja cewek, suatu kali rapat redaksinya gempar. Ketika tulisan pada satu sisi whiteboard penuh, penyaji bahasan rapat membalik papan.
Saat whiteboard diputar itulah tampak bra tercantel. Saya lupa, kutang itu tercantelkan pada dinding ataukah whiteboard. Pemiliknya malu. Dia doktor pengarah gaya di majalah itu. Demikian yang dikisahkan oleh sejawatnya, editor musik yang bandnya tampil di kafe jazz dan festival jazz besar.
15 Comments
Doktor = monDok di kanTor. 😅👏👏👏
Paman dan saya pernah ikut program doktor di (ruang) kantor masing-masing. 😁 Saya sekitar empat tahun di Surabaya, dan sekitar dua tahun di Yogya.
Dari Yogya dimutasi kerja ke Solo, tidak ikut program doktor lagi karena kantor tak begitu jauh dari rumah.
Ehehehe lucu Mas singkatan dari “Doktor” versi Mas Antyo dan Mas Junianto ehehe.
Wah paling enak memang kalau kerjanya di kota yang sama dengan tempat tinggal ya Mas. 😍
Yang pasti ngirit.😁 Dan seneng, kalau mau bisa pergi dengan istri tiap malam setelah pekerjaan selesai/pulang ngantor.
Saat masih ikut program doktor, bisa pergi berdua hanya sepekan sekali karena pulang ke rumah ya sepekan sekali.
Dan bisa makan selat yang maknyuss masakan istri tercinta sepuasnya 😅😍
Mbak Uril nyoba ke kedai Mbak Lies. Nanti ditraktir Lik Jun, dengan bonus es krim.
Lho bukannya istri bisa ngampiri ke kantor lalu dolan berdua? Eh kalo luar kota yang jauh ya beda ding ya.
Kalo saya luar kota itu Jakarta dan Bekasi.
Lha yes to Mbak 👍🤣
Ketemu bojo terus 👍🎉
Berkah setelah lulus program doktor.😂
🤣🎉
Iya monggo tindak Solo. Saya traktir meski saya harus kena potong gaji sebagai karyawan Selat Mbak Lies. Karyawan bagian pembelian dan pengadaan. 😬
Ehehe wah terima kasih sebelumnya sudah berniat baik mentraktir ehehe. Insha Allah, Mas. Semoga suatu saat bisa berkunjung ke Selat Mba Lies 🤲😊
Nimbrung.
Enak ya jadi karyawan kesayangan juragan, dicintai pula, krn punya hubungan khusus dgn ikatan legal formal. 🙈
#sirik
Saya jadi doktor saat bekerja di Surabaya, dan meneruskannya tatkala pindah bekerja ke Yogya. Di Yogya saya mulai menggunakan Kanebo (atau merek lain, saya lupa) setelah dibelikan kawan di kantor yang risi melihat handuk saya dijemur di lingkungan kantor.
Celakanya, karena tidak mudheng soal Kanebo, setelah saya pakai pertama kali, kemudian saya jemur — dan jadi mekingking kayak kertas karton tebal.😁🙈
Kawan saya tertawa terpingkal-pingkal sambil misuh-misuh. Misuh-misuh, karena dia harus merogoh kantong lagi untuk membelikan saya barang yang sama.