↻ Lama baca 2 menit ↬

Tiga jenis earphone milik saya

Ada dua hal yang berubah dalam diri saya namun baru saya sadari belakangan. Soal earphone dan musik.

Earphones telah saya keluarkan dari laci, saya wadahi semua dalam stoples kue. Supaya mudah saya ambil. Earphone dari pabrik selama ini dalam dus ponsel.

Earphone dan musik, tetapi keduanya bisa tak berkelindan secara teknis. Itu yang saya jalani. Seperti dua jalur yang tampak paralel padahal tak terkoneksi, tak saling memengaruhi.

Soal penyuara telinga, saya memakainya untuk menyimak video obrolan di YouTube — sering saya sertai membaca transkripsi yang acap tak tepat itu, sehingga tak perlu menyimak video hingga usai. Biasanya saya menggunakan ponsel.

Lho, apa anehnya? Saya sejak dulu tak tahan berlama-lama menggunakan earphone maupun headphone. Tetapi belakangan saya memakai “alat bantu dengar” yang bukan hearing aid ini untuk mendengarkan video dan sesekali ketika menyunting video untuk blog.

Saya ber-earphone sambil memutar musik dari tablet yang suaranya bermuara ke sepiker Bluetooth. Ponsel dan penyuara telinga untuk menyimak obrolan, tetapi musik tak mati. Saya tidak memilih salah satu, YouTube atau Spotify dalam satu peranti, melainkan keduanya dengan dua alat berbeda. Semuanya secara simultan masuk ke kuping saya.

Lalu soal Spotify — sebelumnya saya juga melanggani Apple Music — akhirnya saya menyadari bahwa saya kemaruk. Seperti penganut aji mumpung.

Sebelum saya jelaskan lebih lanjut, saya sela dahulu dengan pengakuan ini: akhirnya saya jenuh dengan siaran radio daring melalui aplikasi Radio Box. Bermula dari siaran yang sering mati lalu ditambah lagu dan cuap cuap penyiar urban muda yang entah kenapa saya menjadi nggak nyambung. Saya merasa itu bukan untuk saya.

Kembali ke musik, ya. Di Spotify juga ada radio bukan dalam arti siniar (podcast) maupun siaran stasiun radio melainkan semacam daftar putar berbasis artis tertentu. Algoritma memilihkan lagu yang mirip atau sealiran si musisi. Demikian playlist yang mesin susunkan untuk saya.

Di sinilah mumpungisme saya terbukti. Biasanya saya memutar musik untuk saya simak, kadang dengan takzim, tetapi akhirnya untuk suasana. Seperti kebiasaan saya memutar musik instrumental lembut untuk pengisi suasana, untuk ambient.

Kini saya biarkan Spotify memutar lagu untuk saya. Biasanya setelah satu album, atau satu himpunan lagu (tajuknya “This Is…”, semacam “the best of… )” dari seorang musisi maupun band selesai, platform itu akan mencarikan aneka lagu sejenis. Usai Pineapple Thief akan dapat Porcupine Tree, lalu RPWL, dan akhirnya Arena, Transatlantic, The Flower Kings, lantas Triumvirat. Selesai Nona Ria bisa tergiring ke Irama Pantai Selatan. Serampung Sindy Purbawati lalu tergelincir ke Denny Caknan dan Ndarboy Genk.

Hanya jika terkesan saya akan melongok tablet itu, untuk melongok tadi lagu siapa. Jika tidak, saya biarkan saja. Atau saya ganti jika saya tak cocok, misalnya dalam hal lagu pop Jawa gaya campursari tertentu yang tak saya sukai.

Akhirnya keseharian saya tak beda dari toko dan kedai: pokoknya ada musik. Pada era vynil, kaset, dan CD ada semacam ketakziman, membaca semua teks dalam sampul.

Sungguh paradoksal, justru ketika internet tinggal klik pada gawai, saya tak selalu melakukannya untuk menggali info. Tak beda dengan penjejal koleksi MP3 pada era ponsel biasa.

Kenapa saya menjadi tamak ingin mendengarkan musik seharian, bahkan musik saya biarkan terputar padahal saya tidur?

Jadi buat apa punya CD setelah ada streming?

Saya mencurigai diri: pada era produk rekaman fisik saya tak mampu membeli kaset dan CD apa saja, apalagi CD impor. Setelah ada layanan pengaliran legal, saya tak mau rugi.

Banyak teman sebaya, bloger tua maupun bukan, yang jarang menikmati maupun sekadar memutar musik. Kalaupun memutar, mereka lebih suka lagu lama. Bernostalgia adalah salah satu cara memelihara kesadaran dan kesehatan. Nrima. Sakmadya. Tak peduli rilis single baru, misalnya ini.