↻ Lama baca 2 menit ↬

Cuaca panas lembap menggerahkan di Bekasi

Foto tubuh berkeringat kadang tampak artistik. Bahkan untuk model tertentu, sesuai konsep foto, tubuh berpeluh bisa tampak seksi. Soal efek peluh dalam studio yang dingin kering, para fotografer dan penata rias tahu caranya.

Padahal dalam kehidupan nyata di luar foto, orang yang yang basah kuyup karena keringat itu tak nyaman, kecuali sedang berolahraga. Orang lain yang melihat pun bisa ikut tak nyaman jika sikon tak tepat: kepala dan badan seseorang basah, bau pula. Penyumbang bau antara lain bakteri.

Cuaca panas lembap menggerahkan di Bekasi

Saat ini cuaca di tempat tinggal saya panas dan lembap sehingga bikin gerah badan. Saya termasuk orang sumukan, karena kelenjar keringat saya aktif banget. Beda orang beda tingkat kegerahan. Saya punya teman, pria, yang tetap kering badannya padahal orang lain sudah buka kancing bahkan menanggalkan baju.

Alam sudah mengatur agar badan saya terlembapi secara pas. Maka dalam AC dingin kering, misalnya di bioskop dan mal saat tidak ramai, saya tak tahan.

Dalam kantor yang AC-nya dingin banget, sehingga sejumlah orang berjaket, saya bisa menderita. Tanpa pelembap, kulit akan berbusik. Bahkan mata kadang harus saya tetesi. Itu masih ditambah tenggorokan terasa kering.

Hal serupa terjadi saat naik pesawat. Malah saat menyetir jauh, ke luar kota, hawa kering AC mobil membuat saya mudah batuk kecil dan serak sehingga sesekali harus minum air putih seteguk.

Urusan minum air putih dalam ruang ber-AC dingin ini bisa merepotkan. Kepada host obrolan di sebuah stasiun radio di Kebonsirih, Jakpus, sebelum hari H saya minta disediakan air putih padahal Ramadan. Saya menghabiskan tiga gelas. Berbicara itu bikin haus. Lha daripada saya terbatuk-batuk kan?

Kembali ke kelembapan. Itulah yang bikin gerah. Dalam angkot kecil dan bus tanpa AC saat di luar hujan sehingga jendela berembun harus ditutup, saya bisa basah kuyup. Mana kacamata berkabut pula. Sangat tidak nyaman.

Tentang gerah, banyak orang hanya menyebut suhu sebagai sebab. Padahal tidak. Kelembapan, dalam arti persentase titik air dalam udara, itulah yang menghambat penguapan, apalagi tanpa embusan angin. Tetapi penjelasan macam itu tak dibutuhkan orang yang sedang gobyos.

Saya pernah dikerek dalam sangkar, turun ke dasar sumur dalam, yang dindingnya mengucurkan air. Sebetulnya dingin tetapi sumuk pol karena lembap.

Sampai di dasar saya bertemu lorong panjang, lalu ada lorong lagi di bawahnya, ada sekian tingkat di sana, karena saya masuk ke perut bukit. Saat itu tambang emas Cikotok, Lebak, Banten, milik PT Antam, masih beroperasi. Pengalaman saya ini sangat cemen jika dibandingkan para penyusur gua dan luweng. Keluar dari mulut gua di bukit yang lain saya sudah ditunggu Land Rover. Tak perlu lewat sumur hareudang lagi untuk dikerek ke atas.

Omong-omong soal gerah, tampaknya warga wilayah rendah dan panas, misalnya pesisir, makin ke sini makin butuh AC. Iklim global berubah makin panas. Bangunan dan kendaraan bermotor terus bertambah.

Tetapi kenapa dahulu orang bisa hidup tanpa AC, padahal tak semua rumah tinggal bersirkulasi udara bagus, bahkan ruang pendingin antara plafon dan atap pun rendah?

Dalam obrolan dengan Dewa Budjana, Jopie Item mengenang, studio rekaman zaman dahulu tanpa AC, tak kedap suara, setiap kali ada gangguan suara dari luar maka proses perekaman dihentikan (¬ YouTube) .

¬ Persentase Rumah Tangga yang Memiliki AC Menurut Provinsi dan Perilaku Menyalakan AC Dibawah 25° C, 2013 dan 2017 (BPS, 2019)

¬ Gambar praolah: Unsplash