↻ Lama baca 2 menit ↬

Mau ngeblog kena writer’s block

Berulang kali aku ditanya tentang gagasan dalam ngeblog. Aku sulit menjelaskan selain gagasan selalu ada tetapi perwujudannya kadang terkendala aneka urusan, atau rasa penat dan mengantuk, atau tulisan sudah sampai 80 persen namun tiba-tiba aku malas meneruskan.

Jika mood bersesuai, esoknya atau esoknya lagi aku teruskan. Jika tidak, draf itu aku hapus. Sesederhana itu. Mungkin mood ada tetapi aku lupa akan membahas apa. Solusinya? Draf aku hapus. Atau aku biarkan draf menumpuk lalu pada suatu hari tinggal aku hapus serentak.

Ternyata kau ingin mendiskusikan hal lain. Perihal writer’s block. Aku sendiri tak begitu paham soal itu dan tak mau tahu. Kupersilakan dirimu mencari rujukan yang bertebaran, hal itu aku ketahui dari banyak judul yang diberikan oleh Google. Bisa jadi yang aku alami tadi termasuk writer’s block.

Mungkin dalam aneka artikel itu ada jawaban cara mengatasinya. Tetapi kau katakan, ketika judul sudah kau tulis ternyata sulit melangkah ke paragraf pertama. Kau tak tahu kalimat pembuka. Bahkan sering tak tahu bagaimana membuat judul. Lalu kau pun bertanya apakah aku pernah mengalaminya.

Kalau untuk blog, seingatku ya langsung menuliskan saja. Sering kali judul langsung jadi. Kadang kala judul aku ubah setelah tulisan selesai agar sesuai.

Kau pun bertanya kenapa, dan aku berterus terang bahwa amat sangat sering nian, artinya hampir selalu, aku tak tahu bagaimana aku akan menutup tulisan. Semuanya mengalir begitu saja seperti menulis untuk WhatsApp karena aku lakukan di ponsel. Malah tak jarang apa yang aku tulis ternyata melenceng dari judul. Ibarat menulis berita, isi tulisan ternyata berubah angle atau sudut pandang. Maka judul pun aku ubah.

Kenapa bisa begitu, tanyamu. Karena ini blog personal. Blog dan ngeblog aku perlakukan dengan rileks. Ini bukan pekerjaan. Aku pun tak dibayar, bahkan harus mengeluarkan biaya.

Cobalah untuk jujur, katamu. Apakah aku pernah mengalami writer’s block? Oh, jika ditilik dari urusan foto, hasil jepretan sendiri, kadang aku tak tahu akan menceritakan apa. Maka foto pun aku hapus. Kadang hari itu juga, kadang lain hari saat membersihkan gambar dalam ponsel.

Tetapi ajaib juga, kadang saat akan menghapus aku justru punya ide untuk menjadikan foto itu sebagai titik tulisan di blog.

Sederhana sekali, katamu. Memang, kataku. Lalu aku menceramahimu dengan satu kalimat, “Buat apa terlalu banyak keinginan tetapi tak jadi tulisan?”

Kau berkelit, yang kau inginkan adalah dorongan kuat agar punya alasan menulis. Aku katakan, cobalah menulis di sejumlah media berita daring yang menyediakan laman untuk tulisan orang luar. Banyak yang isinya mirip posting di blog.

Kau spontan bertanya apakah dibayar.

© Foto: Blogombal.com, notes yang sudah ditulis dimasukkan ke dalam tutup wadah beras, difoto di atas kulkas dalam ceruk kitchen set, diterangi lampu tempel LED bersensor gerak