↻ Lama baca 2 menit ↬

Adakah cara mengatasi kesepian dan kebosanan?

Tuturan hasil comotan otomatis di Twitter itu tertata. Sang pengadu dapat merumuskan masalah dirinya. Di media sosial sering aku baca aduan yang rumit, berupa kalimat panjang dalam satu paragraf, dengan alur memusingkan, misalnya saat si pencuit bermasalah dengan tetangga. Dalam kekesalan apalagi amarah mungkin banyak orang kerepotan menata kata di ponsel.

Tentang kesepian. Ihwal kesendirian. Bisa karena tersepikan oleh lingkungan mengabaikan dirinya, dan dapat juga tersebab orang itu sedang ingin menyendiri, mengatur jarak dari sekitar. Setiap orang pernah mengalami. Namun tak setiap lingkungan, terutama lingkungan kerja, dapat menerimanya. Seolah orang yang sudah dibayar tak usah rewel manja.

Aku dahulu terkesan oleh cerita seorang kawan di sebuah kantor agensi komunikasi di Jakarta, yang berinduk pada sebuah agensi mondial di Madison Avenue, NYC, Amrik, saat menerima karyawan baru. Setelah si orang baru mendapatkan mejanya, dan kartu nama, lalu diperkenalkan keliling, kepala kantor memberikan sebuah kartu lipat. Dia berpesan, pasanglah kartu ini di meja saat Anda ingin menyendiri, tak ingin diajak banyak bicara persoalan yang remeh.

Kesepian, pergaulan, dan dunia kerja. Saling berkelindan. Setelah memasuki tahap industrial, banyak tempat kerja bukan di rumah, dari pegawai gudang hingga pemimpin pucuk perusahaan berpabrik. Dunia birokrasi lebih dahulu mengalami: penggawa keraton tidak tinggal dalam istana raja.

Bekerja di luar rumah juga berarti kehidupan sosial. Perjalanan berangkat dan pulang kerja berarti selingan: melihat gaya busana, mobil keluaran baru, dan gedung baru yang tahun lalu belum jadi. Makan siang dan ngopi sepulang kerja memperkaya paparan visual dan juga menambah kenalan.

Lebih dari sekali aku mendengar sejumlah perempuan muda, kebetulan lajang, lebih memilih berkantor di lingkungan bisnis meskipun biaya harian lebih mahal ketimbang berkantor di lingkungan perumahan padahal gaji lebih tinggi.

Di lingkungan bisnis ada pergaulan dan gaya hidup. Di perumahan hanya bersua ART, OB, sopir, dan satpam, kata mereka. Tetapi itu era sebelum 2000-an. Lalu iklim dan kultur kerja berubah. Orang bisa bekerja di mana saja. Laptop dan internet mempermudah pekerjaan dalam mobilitas.

Meskipun demikian, pandemi dengan WFH telah mengembalikan orang ke rumah, berjarak dari dunia luar. Bukan hanya seorang pekerja yang harus menyesuaikan diri. Orang lain serumah, atau sepondokan, juga harus menyesuaikan diri. Resiprokal. Di rumah, abang atau adik lelaki jangan melintas hanya dengan berkaus tanpa lengan, atau malah bertelanjang dada, saat seorang karyawati yang tak punya ruang pribadi sedang berapat virtual.

Apakah WFH berarti kesepian, dan kemudian kembali berkantor adalah pergaulan? Beda orang beda persoalan. Ada yang merasa semua dunia untuk dirinya seimbang: dunia kerja, pergaulan, dan hobi yang bisa dinikmati sendirian adalah masakan yang teramu dengan pas.

Tetapi ada juga yang merasa terdera monotoni. Gaji bukan persoalan tetapi sepulang dari kantor hanya bersua kejemuan, tak ada kawan untuk berhadapan muka sampai terasakan tatapan matanya. Pagi bangun mengulangi partitur harian yang sama sampai petang setelah tiba di rumah, lalu kantuk datang. Kemarin, hari ini, dan esok berisi repertoar lagu wajib tanpa improvisasi. Tetapi libur akhir pekan, terlebih libur panjang, hanya menghadirkan kebingungan yang kadang tersusupi kemasygulan.

Terdera sepi, dan terjerat kebosanan, apakah hanya dialami orang tanpa pasangan? Mereka yang kawin juga dapat mengalami. Padahal pasangannya hidup seatap.

Lebih banyak mana yang kesepian, perempuan atau lelaki? Aku tak tahu. Belum mencari data untuk pembenar jawaban.

Kesepian menjadi masalah ketika seseorang tak tahu harus bagaimana, sementara orang lain yang dimintai saran belum tentu menyodorkan pilihan yang seturut diri.

Jika bertanya di media sosial bersiaplah menuai beraneka saran yang bisa jadi hamam membikin ganar, jauh panggang dari api.