↻ Lama baca < 1 menit ↬

Mendung gelap di langit selatan Pondokmelati, Bekasi, Jabar, ke arah Bogor

Tadi, belum pukul lima sore, sudah gelap tersebab mendung berat. Kelabu pekat di langit selatan. Dari belakang jendela saya sempat memotretnya sebelum hujan agar setelah siraman deras dari langit disertai angin takkan menebarkan tempias ke dalam kamar. Tanpa ganjal batu kerikil, tingkap berdaun kupu-kupu, yang biasanya terbuka penuh, itu akan tertutup sendiri oleh bantingan angin. Benar, setelah itu hujan deras. Disertai angin kencang.

Saya membatin, kenapa orang tak suka mendung? Terhadap hujan kadang orang malah menyambut, apalagi setelah panas berkepanjangan. Hanya saat kemarau panjang maka mendung berat menjadi isyarat yang diharapkan karena setelah itu hujan, disertai aroma tanah kering tersiram air. Petrikor memberikan sensasi penuntas rindu.

Mendung berat kurang disuka. Terutama di kawasan yang sering kebanjiran. Mendung biasa pun sering menjadi isyarat tak menyenangkan bagi orang yang akan bepergian, atau akan mencuci dan menjemur pakaian. Juga bagi pembuat kerupuk dan petani yang bersiap menjemur gabah.

Buku laporan HAM: Langit Masih Mendung

Mendung sering menjadi ungkapan yang tak menggembirakan. Pada masa Orde Baru ada buku terkenal dari YLBHI, Langit Masih Mendung (1981), berisi laporan HAM 1980, disunting oleh Todung Mulya Lubis dan Fauzi Abdullah. Versi bekas buku itu masih dijual.

Tentang mendung, ada cerpen terkenal “Langit Makin Mendung” karya Ki Pandji Kusmin (1968), dalam majalah Sastra. Paparan ringkas cerpen kontroversial itu ada dalam Ensiklopedia Sastra Indonesia Kemendikbud.

Kalau mendung dalam lagu? Selain disebut dalam Kidung (Chris Manusama, 1978), sebagai judul ada dalam Mendung Tanpo Udan (Ndarboy Genk, 2019) — entah kenapa umumnya lagu campursari abai penulisan baku teks Latin bahasa Jawa, tetapi nama saya tertulis “antyo” bukan “antya”, bukan?

Lagu itu menampilkan mendung hanya menjadi pembukaan, tanpa perwujudan akhir yaitu perkawinan. Tak terwujud kehidupan rumah tangga suami bersarung membaca koran, istri pergi berbelanja cukup dasteran.

Oh petrikor, aroma tanah kering tersiram hujan

Mendung di Atas Jatibaru