↻ Lama baca 2 menit ↬

Ketua Dewan Pers Profesor Doktor Azyumardi Azra telah menghadap Sang Khalik dua hari lalu (18/9/2022), dalam usia 67 di Selangor, Malaysia, dan dimakamkan tadi pagi di TMP Kalibata, Jakarta.

Perihal almarhum, yang tak saya kenal secara pribadi, ada beberapa catatan. Pertama: sebagai cendekiawan Muslimin beliau ada di barisan moderat, terhadap pemerintah maupun kelompok lain dalam masyarakat.

Kedua: jika menyangkut masa depan Indonesia, beliau adalah orang dengan keyakinan cerah bahwa negeri ini untuk diisi dan dirawat bersama.

Ketiga: dari karya beliau, abad lalu, saya menjadi tahu peran ulama Nusantara yang pernah belajar dan mengajar di Arab Saudi dan posisinya dalam keilmuan Islam di wilayah yang kemudian disebut Indonesia.

Azyumardi Azra dan buku jaringan ulama Nusantara

Dahulu berkat karya beliau, yakni buku yang mulanya berupa disertasinya pada 1992 di Universitas Columbia, NYC, Amerika Serikat, saat beliau berusia 37, saya menjadi tahu nama daerah asal sejumlah ulama yang disematkan pada nama belakang mereka. Misalnya Al-Bantani (Banten), Al-Banjari (Banjar), Al-Palembani (Palembang), Al-Maqassari (Makassar), Al-Minangkabawi (Minangkabau), dan Al-Sinkili (Singkil). Bagi muslimin dan muslimat Indonesia hal itu tentu biasa, sudah terpahami, namun bagi saya adalah pengetahuan baru.

Kebetulan Ahad pagi kemarin, sebelum mendengar kabar beliau meninggal, saya menemukan buku Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, cetakan pertama (1994), yang saya hadiahkan untuk bapak saya pada 1995, saat Bapak sudah sakit karena strok dan lainnya, sehingga selama tujuh tahun terakhir tak pernah ke toko buku maupun berseminar.

Bapak senang sekali beroleh buku itu, dan yang lebih penting, Bapak itu, sebagai entah generasi keberapa dalam keluarga Kristen Jawa, dengan tradisi nama depan setiap anak, sebelum generasi saya, diambil dari Alkitab, plus tradisi gerejawi Barat yang kelatin-latinan, lebih mengenal Islam ketimbang saya.

Bapak serbasedikit bisa membaca dan menulis Arab, dan Bapak pula (bukan perokok) yang membacakan tulisan Arab dalam bungkus Dji Sam Soe untuk saya. Bapak juga memahami ilmu alam falak yang diajarkan di pesantren.

Azyumardi Azra dan buku jaringan ulama Nusantara

Sir Azyumardi adalah cendekiawan milik semua kalangan tak hanya Muslim. Beliau berhak menyandang sebutan Sir sejak 2010 setelah Kerajaan Inggris menganugerahkan gelar Commander of the Order of British Empire.

Ada satu pendapatnya yang mengesankan saya, hampir sepuluh tahun silam, ihwal baju koko, yang saya angkut ke dalam artikel dan infografik pada 2013: “… di kampung saya di Sumatera Barat, kami memahaminya justru sebagai busana dari teman Tionghoa. Itu baju gunting China.”

Baju koko menurut Azyumardi Azra

¬ Foto Azyumardi Azra: Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)