↻ Lama baca < 1 menit ↬

Mencabuti rumput secara kemayu, kalau dulu secara kemaki

Lihatlah gambar. Manis. Romantis. Tanpa meringis. Inilah hasil jepretan pagi, yang saya olah dengan ponsel, setelah mencabuti gulma berupa rumput liar. Niat memfoto secara khusus, dengan menerapkan komposisi, muncul setelah semua usai. Menyabit atau mencabut rumput? Mencabut.

Kenapa pakai kantong kertas, mau kerja kemayu? Husss. Bukan. Sudah bapak-bapak kolonial masa sih sok kemayu. Waktu muda saja tidak.

Kantong plastik kami hemat. Untuk sampah dapur, sebagian besar basah, tentu lebih kuat plastik. Adapun kantong kertas, bekas pakai, untuk sampah kering. Kedua kantong itu akan bersua di kantong hitam besar yang masuk ke bak sampah.

Mencabuti rumput secara kemayu, kalau dulu secara kemaki

Lalu apakah saya pernah ngarit genit, mencari rumput secara kemayu? Pernah. Waktu kelas satu SD, di Salatiga.

Setelah menerima pemberian empat ekor kelinci Australia yang gemuk besar dari pengurus yayasan pertanian dan transmigrasi Truka Jaya, saya harus mencari pakan. Terlalu mewah kalau diberi wortel dan sayur lain, itu untuk makan keluarga kami, bukan terwelu.

Karena saya tak punya keranjang seperti milik anak lain yang menyabit rumput, saya ke lahan kosong seberang rumah, di Sinoman, dengan membawa kardus untuk wadah. Anak-anak ngarit mentertawai saya. Mereka tak mengatai saya kemayu tetapi kemaki, berlagak priayi. Yah, mereka memang ekspert, sabitnya lebih tipis tajam mengilat pada punggung melengkung, selalu membawa batu asah. Saya tampak culun amatir.

Saat membawa kelinci dalam kereneng besar, dari Jalan Caranggito ke Jalan Imam Bonjol, dekat Pulutan, bersama mbakyu dan adik saya dengan memotong kompas melalui persawahan dan tegalan, beberapa kali kelinci terlepas. Ada yang harus kami kejar sepanjang tanggul sungai, ada yang mesti saya buru di sawah yang telah dipanen.

Anak-anak kampung hanya gumun melihat, tak membantu menangkap. Saat itu mereka belum pernah melihat kelinci apalagi gemuk besar.

Rumput bergoyang, belum tentu kambing doyan

Kang Maman nggak nyuri makanan Lee Kuan Yew