“Oom Kam,” tanya Andy Tingwe di kios tembakau, “yang kayaknya suka Bjorka itu lebih banyak yang pro atau anti-Jokowi?”
“Nggak tau. Kalo sampelnya di Twitter, Ismail Fahmi lebih tahu,” jawab Kamso, ngasal seperti biasanya kalau sedang kumat.
“Misalnya latar belakang politik nggak penting, bukannya absurd kalo ada yang bersikap positif atau apalah sama Bjorka?”
“Dengan maupun tanpa Bjorka, kebocoran data itu ngeselin, apalagi kayak nggak ada mau tanggung jawab lantas berlindung di balik alasan belum ada payung hukum perlindungan data pribadi.”
“Tapi yang kayak suka sama Bjorka kan sebenarnya juga dirugikan, data mereka jadi komoditas, Oom?”
“Beda kasus, bukan analogi yang pas, di RT kompleks sebelah dulu sering kemalingan. Pak RT nyalahin warga, ogah bikin sistem keamanan yang lebih sip, misalnya nambah alat dan peronda. Ketika Pak RT sekeluarga ke luar kota, anjing-anjing dititipin di pet shop, isi rumahnya dikuras. Belum zaman CCTV sih. Warga bukannya prihatin, malah seneng soalnya udah lebih dulu kemalingan.”
“Tapi kan nggak ada maling ketangkep yang jadi pahlawan?”
“Karena nggak ada yang ngaku. Tapi bukan soal ketangkep yang penting. Warga seneng aja, Pak RT akhirnya kena. Rasain. Kalo soal rugi, kan semua kadung rugi? Emang sih Pak RT nggak mengimbau maling please jangan ganggu kami.”
“Jadi warga bersukaria karena frustrasi, kesal merasa nggak diurusi?”
3 Comments
BTW ulah hacker yang ini kok berlanjut terus, dan kemudian mengarah ke orang per orang, ya, Om Kam?
Kalau orang per orang adalah pejabat negara, sebenarnya tujuannya ngerjain pemerintah. Mempermalukan, karena pemerintah mendiamkan kebocoran dan pihak yang mestinya bertanggung jawab pada defensif.
Dalam hal ini pemerintah dan pihak-pihak itu memang ndembik.