↻ Lama baca < 1 menit ↬

Apem sering jadi kiasan alat kelamin perempuan

Sudah lama saya tak makan apem. Mungkin empat tahunan, bahkan lebih. Kalau serabi, dengan santan kinca, seingat saya sebelum pandemi masih menikmati. Apem ini saya dapatkan dari Mbakyu Sayur, sekotak plastik berisi tiga lembar harganya Rp8.000.

Rasanya pas. Tidak terlalu manis tetapi juga tidak tawar. Serasa saya menemukan sesuatu yang hilang, lidah mencecap dan benak terpulihkan. Butuh peletik kecil — semacam bunyi “ting…” sendok beradu gelas — agar ingatan bekerja, bisa dari bacaan di koran, teks di WhatsApp, sampai kehadiran sebuah penganan, sehingga kosakata dalam kepala tak tanggal.

Untunglah sejauh ini kata apem masih ada dalam salah satu laci ingatan saya. Maka saya juga masih ingat, apem bisa dipakai untuk menyamarkan penyebutan genitalia perempuan, tetapi saya tak tahu yang dimaksudkan itu vagina ataukah vulva, dua hal yang sering dipersamakan.

Hari ini di Twitter istilah apem mencuat. Arahnya ke genitalia perempuan dalam bingkai makna menyewakan tubuh untuk layanan seksual. Sasarannya? Seorang artis seleb yang pernah dicokok polisi di Hotel Kempinski, Jakpus, akhir 2015, dengan dugaan, atau malah sangkaan, sedang melayani klien, padahal tak merugikan publik, dengan tarif di tangan agen Rp65 juta untuk tiga jam, lalu hari ini sebagai tersangka pencemaran nama baik dia pergi ke luar negeri.

Sepintas saya lihat hampir semua pencuit adalah pria.

Apem sering jadi kiasan alat kelamin perempuan