↻ Lama baca < 1 menit ↬

“Tuh kan, Pemda DKI nutup Tebet Eco Park buat sebutan. Mestinya semua hal dipikir mateng sebelum bikin. Dasar Anies!” Cathy Ketek, uring-uringan.

“Kamu udah nyoba ke sana? Aku sih belum,” Kamso menanggapi.

“Juga belum sih, Oom. Tapi ngeliat foto orang kayak cendol, ditambah keluhan warga sekitar soal parkir dan PKL, jadi tambah sebel sama Anies! Ngurus taman aja nggak bisa, gimana mau ngurus Indonesia?”

“Bentar, bentar. Sabar, Non. Buatku bukan salah Anies apa DKI. Taman di Tebet itu kan dirancang buat orang sekitar taman. Anies pernah bilang jangan bawa kendaraan. Tapi yang dateng dari jauh, bawa kendaraan. Ada yang dari Bekasi, kayak tetatangga temenku. Lokasi Tebet emang di tengah, di Jaksel tapi dekat Jakpus ama Jaktim, ada akses Jalan Casablanca pula.”

“Dilarang dong!”

“Lah itu taman publik, fasilitas dari DKI. Orang Jaktim dan Bekasi mau bawa keluarga ke taman di Waduk Pluit, Kalijodo, Rio Rio, Langsat, Barito, juga boleh. Kalo mau.”

“Itu kan bikinan Ahok!”

“Nggak ada hubungannya. Lokasi Tebet enak. Orang yang udah dua tahun nggak bisa leluasa ngelencer murah jadi punya alasan ke sana, masih baru pula.”

“Napa nggak ke GBK? Atau Monas?”

“Tanya mereka. Atau tanya Anies. Tapi soal taman di Tebet jadi sesak, parkiran penuh, bukan salah Anies. Udah bener dia nutup taman buat sementara, buat benahin.”

“Oom Kam entar milih Anies ya?”

“Ini soal taman, RPTRA. Setiap wilayah butuh. Tanggung jawab setiap wali kota bikin itu. Sebanyak-banyaknya, bukan yang jauh dari permukiman.”

¬ Gambar praolah: Liputan6, Kompas.id