↻ Lama baca < 1 menit ↬

Saya hentikan sepeda saya, menanya orang-orang yang sedang sibuk mengikat tumpukan kardus bekas di atas pikap, itu buat apa. Tentu itu cuma basa-basi, karena saya sudah tahu jawabannya: untuk disetor ke juragan pengepul kardus yang memasok bahan daur ulang ke pabrik kertas.

Di belakang pikap ada satu pikap lagi, mengangkut berkarung-karung plastik bekas, yang juga akan didaur ulang. Tas keresek hitam kasar adalah salah satu hasil daur ulang paling jelek.

Dua puluh lima meter dari kedua pikap itu ada rumah pemulung, memanfaatkan lahan kosong yang penuh pohon pisang, yang sebagian permukaannya adalah hasil urukan tepian danau kecil yang danaunya sekarang menjadi perumahan.

Tentu saya tak banyak menanya dan mengobservasi soal bisnis pemulung ini. Saya tidak sedang melakukan pekerjaan jurnalistik. Biarlah itu jatah orang-orang muda, pintar, dan kreatif, di media daring, yang tangguh di lapangan sekaligus kutu buku. Saya cuma narablog kambuhan dengan kwalitet mepet. Khas orang masa lampau yang masih boleh hidup. Kutu buku, bukan. Melek tekno, tidak.

Untuk pekerjaan jurnalistik dengan laporan mendalam, plus foto yang kuat, tak cukup liputan turistis satu jam kelar. Sehari pun sering kurang cukup. Di media daring sekarang, para bos masih mengizinkan liputan mendalam yang bisa lama, ditambah riset pustaka dan mengubek data sekunder langsung dari sumber, serta mewawancarai narasumber kompeten, asalkan setiap hari setor berita lain yang bisa belasan judul, dan menghasilkan trafik bagus.

Itulah kehebatan orang media sekarang. Melek teknologi, lancar bertutur, dengan kemampuan berbahasa yang mumpuni, dan sangat produktif. Saya terlalu tua untuk belajar hal itu semua apalagi menjadi seperti mereka mereka.

Pemulung dan tukang rombeng adalah solusi

Mengalah dalam urusan sampah itu tak salah

Kotak kardus bikinan toko