↻ Lama baca < 1 menit ↬

Mencemaskan kemenangan Bongbong Marcos di Filipina

“Oom, napa sih penyuka demokrasi di luar Filipina, termasuk di sini, nggak suka Bongbong Marcos menang? Kan itu pilihan rakyat sana?” tanya Nona Tita Citacita.

“Dia mau hidupkan dinasti jahat. Penindas, pembunuh, perampok uang rakyat. Demokrasi dalam taruhan,” jawab Kamso.

“Lha kan yang salah bapaknya, ibunya? Napa jadi dosa turunan? Itu sama aja, misalnya lho, melarang anak orang yang tersangkut PKI, DI/TII, NII, dan ormas terlarang, juga anak kombatan ISIS, berkarier di pekerjaan publik apalagi membunuh hak sipil mereka?”

“Beda, beda. Ortu dari anak-anak itu, nggak semuanya dibuktikan di pengadilan sih, bukan bekas presiden atau raja. Mereka katakanlah berontak karena alasan ideologis. Kalo yang kombatan, emang mereka membuang kewarganegaraan Indonesia, tapi dibilang berperang untuk negara lain juga nggak pas, soalnya ISIS cuma gerombolan teroris, padahal terorisme tuh kejahatan luar biasa, begitu juga korupsi. Tapi anak-anak mereka kan nggak tahu urusan ortu. Anak-anak kombatan juga.”

“Emang kalo bapaknya dulu presiden atau raja, kenapa?”

“Dalam kasus Marcos Senior, selama memimpin dia jadi diktator, memperpanjang jabatan terus, mengembangkan kleptokrasi dengan dukungan kroni, membunuh lawan politik, memenjarakan siapa saja. Dia juga memalsukan sejarah. Keluarga Marcos jadi perampok duit rakyat.”

“Jadi, kalo ideologi bukan penyakit turunan, gitu? Tapi kalo kejahatan itu herediter? Lantas Bongbong nggak pantes jadi presiden?”

“Ini bukan soal genetika. Anak diktator bisa jadi orang baik. Ini bukan soal individu dan personal tapi bagaimana seorang pemimpin, sebagai bagian dari sistem yang koruptif dan anti-HAM, ingin meraih kejayaan, lalu menghidupkan cara-cara lama yang busuk, sementara hasil menjarah belum mereka balikin.”

“Lha kan belum terbukti Bongbong cuma duplikat bapaknya? Napa nggak liat dia entar ngapain aja, Oom? Kalo ternyata busuk ya dibuang aja. Rakyat yang menentukan, termasuk rakyat yang ketipu milih dia.”

“Sesederhana itu?”

¬ Gambar praolah: Unsplash, AP

Bongbong mengalahkan markibong