↻ Lama baca < 1 menit ↬

Tak pernah tamat, motor masuk jalan layang non tol Casablanca Jakarta

Saya pernah menanya seorang pemotor yang kerap masuk ke jalan layang nontol Kampung Melayu – Tanahabang, Jakarta, “Kalo kamu lagi naik mobil di sana, lalu ketemu motor yang masuk, bahkan ngelawan arus karena tau ada polisi gimana?”

“Sebel sih. Keganggu banget sama yang ngelawan arus,” jawabnya.

“Tapi kalo kamu lagi naik motor kan masuk sana? Gimana dong?”

Dia hanya tertawa.

Soal motor masuk JLNT ini tak pernah selesai padahal aturannya jelas. Dulu malah pernah terjadi suami memboncengkan istri naik motor melawan arus, lalu tewas tertabrak mobil.

Pelanggaran di JLNT ini adalah sekeping potret Indonesia: melanggar aturan lalu lintas itu soal untung-untungan. Kalo lagi apes ya kena tilang. Pemotor hanya tahu cara meringkas jarak dan waktu, termasuk saat melanggar arus di luar JLNT Casablanca maupun, lebih jarang, di Jalan Antasari.

Kalau orang lain boleh, kenapa saya tidak? Kalau hari ini lolos, ya besok dicoba lagi. Itulah seni menjalani kehidupan di Indonesia. Serupa di jalan umum searah pengapit ruas jalan tol JORR Jatiwarna – Jalan Kodau, Bekasi. Masing-masing jalan searah di sana akhirnya menjadi dua arah, bagi mobil maupun motor, karena polisi membiarkan, padahal rambu masih terpasang.

Para pelanggar tak merasa bersalah apalagi malu. Saya pernah dimaki pemotor melawan arus di JLNT Casablanca, padahal dia yang salah. Di jalan pengapit JORR tadi, para pelanggar lebih galak karena menerapkan hukum sendiri : “Dulu emang dilarang tapi sekarang boleh.” Landasan pembenar: mayoritas selalu benar.

Kemarin para pemotor penganiaya pemobil di JLNT sudah ditangkap. Tetapi besok dan besoknya masih ada pemotor masuk jalan itu lagi.

PR besar Indonesia antara lain kepastian hukum. Siapapun presidennya dan kapolrinya.

¬ Gambar praolah: Kompas, Tempo, Viva