
Saya pernah mendengar meja sebelah, dalam kedai, yang berisi milenial, mengomentari temannya, “Elu kayak orang tua aja, selalu pesen minuman anget.”
Tampaknya memang begitu. Sudah sekian tahun saya cenderung memesan teh hangat saat mengudap di warteg, warung padang, sampai kedai cantik. Kalau bukan teh, jeruk hangat, ya air putih yang bukan dari lemari pendingin. Lebih nyaman di tenggorokan.
Dulu seorang sejawat muda pernah menanya saya, “Kenapa sih Mas kalo nggak pesen Aqua pasti pesen teh tawar? Kan di sini harganya nggak jauh dari minuman khusus termurah?”
Saya secara sotoy malah bercerita hal lain soal pricing policy kedai. Harga minuman termurah itu 75 persen makanan terendah. Margin air putih botolan itu lumayan — makanya kedai kurang suka kalau ada orang minta air putih panas kecuali buat susu balita. Tapi lebih gede lagi margin minuman yang harus diracik, minimum setara makanan termurah .


2 Comments
Bahkan di rumah pun yang saya minum air putih anget.😬 Sedangkan anak saya di rmh dan luar rmh clegak cleguk es teh manis, es cokelat, es Nutrisari, dll.
Tentang margin bongso minuman yang harus diracik, coba nanti saya cek ke istri.😁
Di sebuah kantin SMA suatu pagi, saya lihat anak-anak sebelum masuk kelas beli minuman dingin. Saya pesan kopi, lalu teh panas, ternyata tidak tersedia.
Soal margin, situ pasti tahu, bukan tempe. Margin besar dari minuman dan nasi. 😁