↻ Lama baca < 1 menit ↬

Elpiji melon untuk orang miskin dan orang mampu

Pencabutan subsidi gas elpiji* melon belum kunjung kelar, sampai hari ini harga elpiji dalam tabung hijau pupus isi tiga kilogram belum naik. Pemerintah berencana mengonversi subsidi ke BLT. Kenapa? Supaya tak salah sasaran. Meskipun tabung bertuliskan “hanya untuk masyarakat miskin”, pembelinya juga orang mampu. Tamakkah mereka? Belum tentu.

Dulu saya naif, berpendapat begitu. Tak selamanya para pembeli itu tamak, mengejar harga murah. Ada juga alasan kepraktisan. Bagi kaum sepuh, elpiji biru 12 kilogram terlalu berat kecuali ada orang yang membantu. Soal lain adalah ukuran dapur. Tabung biru selain berat juga menyesaki tempat.

Lalu muncul tabung jambon 5,5 kilogram. Tapi tak semua warung menjual si Pinky Brightgas ini. Orang kadung terbiasa dengan opsi tabung biru atau melon.

Konversi minyak tanah ke elpiji ternyata berbuntut panjang. Ada saja masalahnya.

Di sisi lain, untuk perkotaan, pipa distribusi PGN belum merata. Di kecamatan saya, Pondokmelati, Bekasi, sudah terpasang pipa gas di sejumlah titik. Ya hanya terpasang. Lalu setelah ada pandemi tak ada kabar kapan sampai ke rumah warga. Memang sih, urusan gali-menggali itu mahal.

Kelebihan gas PGN adalah tak perlu tabung, berat jenisnya sebagai gas alam lebih ringan dari udara, sehingga ketika pipa bocor langsung menguap ke udara. Elpiji tidak. Berat jenisnya lebih berat dari udara. Ketika gas bocor di dapur dan tak ada saluran keluar, gas menggenang di lantai — ibaratnya begitu. Begitu ada api maka wuzzzz…

*) Akhirnya elpiji menjadi nama benda, diserap oleh KBBI. Mulanya itu jenama dari Pertamina dan Jaya Gas, Elpiji dengan E kapital, sebagai pelafalan untuk LPG (liquefied petroleum gas)