↻ Lama baca < 1 menit ↬

Baterai AAA Anker yang katanya sip

Di lapak daring eh lokapasar banyak pilihan baterai UM atau A. Yang menarik, warnanya tak ikut kelaziman. Ada yang mirip permen. Yang baru saya beli warnanya biru muda, dulu tak ada baterai berwarna begini.

Baterai Xiaomi warna-warni seperti pelangi

Yang saya sebut kelaziman itu setahu saya dulu ada aturan industrial untuk warna baterai, tapi belum saya temukan dokumennya. Ada kuning, merah, hijau, biru, dan hitam. Yang paling murah seingat saya adalah kuning.

Lalu untuk yang hitam ada versi alkalin yang pada masa lalu bikin kesal orangtua pas tanggal tua karena anaknya boros baterai untuk balap Tamiya.

Warna baterai berdasarkan kandungan

Sabar, yang saya sebut UM dan A itu baterai biasa yang kita kenal sejak kecil untuk radio, mainan, dan lampu senter. Ada UM 1, UM 2, dan UM 3, atau A, AA, dan AAA sesuai ukuran fisik. Di luar itu ada baterai kotak 9 Volt.

Jadi saya tak membahas baterai cas ulang seperti 18650 yang berwarna-warni, jaketnya pun polos tanpa merek, hanya cetak dot laser tentang kapasitas daya. Pengguna senter, lampu sepeda, dan penyuka vaping akrab dengan baterai jenis itu dan yang sekelompok. Spiker Bluetooth Harman Kardon Onyx Studio juga pakai baterai 18650 tapi harus disolder.

Baterai hitam belum tentu alkaline

Tentang baterai biasa, saya punya catatan. Pertama: dulu banyak anak menjadikan baterai bekas sebagai mainan padahal berbahaya bagi kesehatan termasuk kulit. Mungkin berhubungan dengan kesejahteraan masyarakat.

Kedua: tak kunjung jelas penerapan buang baterai demi lingkungan. Sulit menemukan kotak penampung baterai buangan untuk publik.

Emang dari tempat penampungan lantas isi kotak dibuang ke mana?

Silakan menanya wali kota, bupati, dan anggota DPRD. Bukankah mereka orang waskita lagi bestari?