↻ Lama baca 2 menit ↬

Kerepotan media dalam memilih foto ilustratif

Lihat foto dan kapsi di atas. Apa artikel yang Anda bayangkan telah menyertai foto itu? Tata kota? Bukan. Ruang publik? Tidak. Ruang terbuka hijau? Salah. Yang benar adalah bau badan sebagai bagian dari seksualitas manusia. Sesuatu yang purbawi bahkan animal. Bukan isu baru. Kompas hari ini mengangkat feromon karena ada temuan baru, afirmatif, dari riset.

Yang menarik bagi saya justru dua foto ilustrasi artikel setengah halaman itu. Foto kedua tentang dua insan tadi. Adapun foto pertama, yang utama, adalah tentang pernikahan massal.

Kerepotan media dalam memilih foto ilustratif

Hubungan kedua gambar dengan bau badan terutama ketiak?

Ya kita hubung-hubungkan saja. Perkawinan dan kencan berhubungan dengan seks, jadi ada urusannya dengan feromon.

Pilihan foto kagok

Bagi saya foto pilihan Kompas itu aneh karena koran itu termasuk media yang memiliki sejumlah fotografer bagus dan mampu menggaji. Untuk foto berita, Kompas unggul.

Kerepotan media dalam memilih foto ilustratif

Untuk foto stok bagi artikel? Saya tak tahu. Selama ini saya hanya tahu pengguna bank foto, berbayar, biasanya dari Shutterstock, di koran Palmerah itu hanya bagian iklan, untuk artikel Klasika.

Untuk topik feromon ini Kompas tampak canggung. Kalau menampilkan ilmuwan peneliti tentu aneh kecuali berhubungan dengan Nobel dan ganjaran reputabel lain.

Akan tetapi jika Kompas menampilkan foto ilustratif intimasi pasangan, dengan model Indonesia, rasanya di luar kelaziman editorial media itu.

Oke kita tinggalkan Kompas — maksud saya Kompas.id. Bagaimana bahasan feromon di media lain? Bisa ditebak. Misalnya…

  • Menampilkan pasangan
  • Menampilkan perempuan
  • Gabungan keduanya yang memancarkan keintiman

Kerepotan media dalam memilih foto ilustratif

Bukankah itu wajar? Ya. Lumrah. Berlaku untuk aneka artikel, bukan berita, seputar asmara, kencan, psikologi, kesehatan reproduksi, dan seks.

Pemilihan foto di era banjir gambar

Urusan pemilihan foto ilustratif umumnya media ini menarik kita amati, tak hanya dalam artikel seputar pria dan perempuan tetapi juga kesehatan, desain rumah, keuangan keluarga, seni perdapuran, hingga pengasuhan anak.

Ada kesamaan pola bagi umumnya media, misalnya…

  • Menggunakan foto stok berbayar maupun freemium, atau malah main comot dari sebuah situs — sampai lima enam tahun lalu masih ada kredit “istimewa” dan “internet”, meneruskan tradisi cetak
  • Sebagian foto dari luar negeri, jika menyangkut orang, umumnya berwajah kaukasoid
  • Jika menyangkut tata ruang, meskipun Indonesia modem tak beda dari Barat, sangat tampak itu di luar negeri
  • Untuk benda tertentu tampak itu bukan di Indonesia, misalnya setir kiri dalam kabin mobil dan pemanas ruang

Kenapa bisa begitu? Mengejar tenggat. Umumnya content management system (CMS) mengharuskan penyertaan gambar. Tanpa gambar, berita maupun artikel tidak bisa tertayang.

Misalkan alur dan jenjang keranjang redaksi memungkinkan penulis awal tak menyertakan gambar, penyunting tahap berikutnyalah yang kerepotan, harus minta gambar ke desk foto atau berburu sendiri.

Dalam ketergesaan, gambar yang diperoleh kadang kurang pas. Dari segi apa? Kedekatan psikologis.

Seorang editor visual sebuah media daring pernah mengingatkan seorang awak redaksi agar mengutamakan wajah asiatik dan melanesian saat mengambil gambar legal dari bank foto berbayar maupun gratis (Creative Commons).

Bukan karena rasis, xenofobia, atau menolak multikulturalisme tapi semata atas nama proksimitas psikologis: serasa melihat tertangga.

Dalam amatan sekilas saya, jadi bisa salah, media Amerika lebih dulu terbuka, menampilkan orang hitam dan Asia dalam foto ilustrasi ketimbang media Eropa, kecuali Prancis. Hal sama berlaku untuk iklan. Dugaan dini saya, lagi-lagi tolong Anda koreksi, Amerika lebih dulu menerima keberagaman karena imigran non-putih.

Jauh sekali bualan saya. Maaf.

Mari kembali ke pokok soal. Lalu untuk artikel feromon Kompas, misalnya tak didesak tenggat, ilustrasi apa yang tepat untuk menggantikan pasangan di bawah pohon di Taman Waduk Pluit, Jakut, dan pernikahan massal di Banyumas, Jateng?