β€’ Lama baca: 2 menit β†’

Blogombal.com miskin promo, pembaca hanya sedikit

Seorang kawan lama bilang, “Sampean dulu bilang yang baca blog itu si penulis dan server. Sekarang sampean ngeblog lagi. Nggak kapok ya?”

Kawan lain, tak punya blog, “Aku baru tahu Mas punya blog, dikasih link sama temen kantor.” Lalu setelah ngobrol via WhatsApp, dia menutup, “Kenapa Mas nggak pernah share di grup?”

Tentang berbagi di semua grup WhatsApp yang aku ikuti memang tidak, maksudku jarang sekali, aku lakukan

Aku hanya berbagi info yang relevan dengan topik tertentu dan aku malas mengetik ulang untuk menanggapi. Mengetik panjang di ponsel sudah aku lakukan di aplikasi WordPress. Kenapa harus aku ulang di WhatsApp?

Kalaupun aku berbagi di grup, seperti pada umumnya grup tak semua membuka tautan. Kalaupun membuka dan membacanya, banyak dari mereka yang tak tahu itu blogku. Aku malah nyaman, tak akan ditanya macam-macam.

Kalau membagikan posting di blog secara japri, memang kadang aku lakukan. Hanya terhadap orang tertentu. Tak sampai sepuluh orang. Yang kerap, belakangan, cuma seorang. Kerap dalam arti setiap minggu hampir selalu ada, berisi posting lawas penyerta diskusi ringan.

Kenapa aku tak berbagi di grup WhatsApp? Untuk berkabar, mempromosikan, aku cukup via Twitter. Tapi trafik membuktikan, penggiring kunjungan adalah Google.

Tentang promo di Twitter, tak setiap posting aku cuitkan. Posting ini juga takkan aku cuitkan. Aku tak dapat menyebutkan pasti apa alasanku. Tapi soal rikuh kadang menjadi rem, tak enak menyesaki linimasa dengan terlalu sering mempromosikan posting terbaru.

Meskipun demikian, Twitter aku anggap paling pas. Sebab yang membaca hanya pengikutku, yang sedikit itu. Aku tak merasa memaksa orang lain. Aku tak merasa mengotori linimasa.

Jika aku mempromosikan di grup WhatsApp hanya akan menambah kesimpangsiuran pesan yang berjejal, padahal tak semua orang berkepentingan. Kalau di Twitter, orang yang mengikuti aku sudah siap mendapatkan cuitan posting. Memang sih belum tentu mereka mengeklik tautan.

Termasuk dalam grup WhatsApp adalah keluargaku. Ada beberapa kelompok, dari anak dan istriku, keluarga orangtuaku berisi saudara dan keponakan plus ipar, hingga keluarga yang lebih besar semacam puak. Aku tak pernah berbagi tautan blogku. Berbagi gambar tangkapan layar pernah, tapi tanpa tajuk blog, untuk menanggapi sesuatu.

Setiap orang, setiap pribadi, punya pergaulan dan lingkup minat sendiri-sendiri. Tidak perlu semuanya dicampurkan.

Aku tak merahasiakan apa yang aku tulis karena semuanya terbuka untuk publik, tanpa nama samaran. Kalau sudah terbuka kenapa mesti aku sampaikan dalam grup WhatsApp?

Ketika aku masih bekerja di media, dengan menulis dan membuat infografik, aku tak pernah berbagi di grup keluarga. Ini soal pekerjaan. Bahkan ketika dalam sebuah grup, termasuk dalam grup keluarga besar, ada infografikku yang dibagikan, aku tetap diam. Kredit namaku yang kecil dalam gambar membebaskanku dari pertanyaan.

Karena urusan pekerjaan pula, di Twitter aku dulu punya akun khusus sebagai pegawai penerbit itu. Isinya ya tautan tulisan dan desainku. Jumlah pengikut lebih banyak daripada akun blogku sekarang. Setelah aku tak di media itu, aku berpamitan melalui cuitan, bahwa tugas telah selesai, takkan ada cuitan lagi.

Tak semua urusan harus dicampurkan karena setiap hal punya domain, atau ranah, masing-masing.

Maka siapa saja pembaca blogku aku tak tahu. Sebagian aku kenal bahkan pribadi, sebagian tidak, tapi aku menduga sebagian tak ada dalam grup WhatsApp yang aku ikuti.

Β¬ Gambar praolah: Shutterstock

Pemilik BlogSenandikamedia sosial,ngeblog,promosi,trafik,twitter,WhatsApp,wordpressSeorang kawan lama bilang, 'Sampean dulu bilang yang baca blog itu si penulis dan server. Sekarang sampean ngeblog lagi. Nggak kapok ya?' Kawan lain, tak punya blog, 'Aku baru tahu Mas punya blog, dikasih link sama temen kantor.' Lalu setelah ngobrol via WhatsApp, dia menutup, 'Kenapa Mas nggak pernah share...Suatu atau sebuah blog?