↻ Lama baca < 1 menit ↬

Mendukung maupun menolak Anies karena agama

“Udah baca sindiran Giring Nidji PSI tentang kepala daerah yang memanfaatkan agama untuk menang Pilkada, Mas?” tanya Polpot Kempot pagi ini via WhatsApp.

“Ehm, maksud dia Anies kan? Jangan sampe jadi presiden, gitu kan?” balas Kamso.

“Iya. Khawatir kalo Anies main mata lagi sama kelompok radikal intoleran, jualan ayat, masyarakat terbelah.”

“Jadi, petanya gini. Anies diposisikan sebagai pemain politik identitas, menjual sentimen keagamaan. Pendukung dia itu mereka yang suka dengan isu agama. Lalu penolak, atau malah pembenci dia, adalah kaum yang gak mau dengan politisasi agama. Gitu kan?”

“Udah jelas itu. Gak usah dirumuskan.”

“Jadi yang jadi simpul adalah politik identitas pakai agama, jika perlu memanipulasi, demi kekuasaan? Pro lawan kontra.”

“Yes!”

“Berarti mereka berada di daratan yang sama dong. Kayak kamu mau bikin panggung dangdut tapi aku menolak karena nggak suka dangdut. Bukan karena aku nggak suka pentas musik.”

“Nggak gitu dong, Mas. Gimana sih kok aneh mikirnya. Ini bukan soal selera.”

¬ Gambar praolah dari Tokopedia dan Tempo.co