↻ Lama baca < 1 menit ↬

Membaca itu bagus dan berfaedah tapi buku tak dapat menggantikan kehidupan ~ Blogombal.com

Melihat reel iklan Buku Akik di Instagram saya pun terkesan. Isinya cuma suara menanya seorang cewek baca buku ini dan itu. Sungguh sebuah kampanye baca buku yang kreatif dan menyentil.

Soal buku kertas atau digital, ah sudahlah, takkan pernah usai dibahas. Masing-masing punya plus minus. Lebih penting ini: masih banyak tekskah yang kita baca dan tulis?

Membaca bisa dari mana saja, sejak kertas bungkus tempe, koran bekas, situs berita, blog, Facebook, Twitter, sampai pesan di WhatsApp yang membanjiri ponsel kita. Mengunyah teks butuh pembiasaan. Bisa teks singkat padat dengan banyak akronim dan abreviasi sampai teks panjang tertata di WA.

Teks panjang di WA bisa karena asal share entah dari mana, bisa juga si pengirim telaten mengetik bahkan dengan ponsel. Apakah semua warga grup membacanya itu lain pasal.

Ya, menulis adalah pelengkap membaca, dan bisa juga sebaliknya. Makin banyak ragam bacaan, makin luas jelajah tekstual. Untuk orang tua, itu bagus untuk merawat ingatan, sejak nama orang, tempat, kedai, hingga kosakata.

Menulis dan membaca adalah berkah peradaban. Hanya memilih salah satu, yakni membaca, bahkan dari ponsel, itu pun bagus. Tentu teks dalam pengertian luas dan besar tak hanya berarti aksara. Gambar dan video, juga suara lirik lagu, adalah teks. Semuanya saling melengkapi, menjaga kemampuan bahasa verbal kita sebagai cerminan penataan benak.

¬ Gambar praolah: Shutterstock