↻ Lama baca < 1 menit ↬

Bunga Merah minta advis Kamso tentang sesuatu. Jawabannya, “Lah kamu nanya Ayah sama Bunda dong, Bunga.”

Jawaban si nona, “Lho kan aku udah bilang Oom, kalo Bunda gitu pendapatnya. Kalo Ayah sih, yah gitu deh, Oom tau sendiri, kan suami takut istri. Nurut aja.”

“Emang napa kalo suami takut istri?”

“Ya nggak baguslah, Oom. Itu Bang Odang juga mewarisi ayah, takut ama bininya.”

“Pengertian takut itu apa sih?”

“Masa sih harus didefinisikan?”

“Lha iya to, Neng…”

“Oom termasuk takut istri nggak?”

“Jelas.”

“Lho?”

“Iyalah. Masa sih takut sama istri orang? Takut ya sama istri sendiri.”

“Tante juga takut sama Oom?”

“Iya. Masa sih takut sama suami orang padahal suami orang nggak pernah mengancam atau melakukan tindakan mengerikan?”

“Ya bukan gitu. Takut, ngeri, jijik, ama segan kan beda. Takut tuh nggak pede, nggak mandiri dalam bersikap, mau cari aman supaya nggak dimarahin istri.”

“Oooh gitu. Pinter kamu. Suamimu nanti takut nggak sama kamu?”

“Kalo dia takut istri nggak bakal jadi suamiku. Tapi kalo dia tipe penindas, jadi pacarku aja nggak mungkinlah, Oom.”