↻ Lama baca < 1 menit ↬

Makna 212 tahun 2016 dan sekarang

“Ingatanku kok pendek ya, Oom?” tanya Min Thok, pemuda yang sudah setahun kerja serabutan gara-gara ekonomi letoy pandemi.

“Sakit ingatan ‘kali?” sahut Kamso.

“Maksudku kok aku nggak inget persis 212 itu apa gitu lho, Oom.”

“Macem-macem. Bisa parfum. Bisa minimarket. Bisa reuni akbar besok, pas 2 Desember.”

“Demo gede kan ya? Aman nggak, Oom?”

“Bukan demo. Cuma reuni. Kumpul-kumpul. Ya amanlah, karena mereka bilang aksi damai.”

“Yang mereka tuntut apa?”

“Tanya mereka dong, aku nggak tau.”

“Kalo dulu?”

“Mereka minta Ahok dihukum. Udah kesampean.”

“Ahok udah bebas kan? Terus mereka besok nuntut dia dipenjara lagi? Atau nuntut orang lain siapa gitu… ”

“Husssss. Nggaklah. Mereka bijak, cendekia, lagi berhati mulia, masa tuntutan selalu diperbarui dan diperlebar?”

“Lantas buat apa reuni?”

“Lha kan kangen?”

“Yang menggerakkan mereka siapa?”

“Hati nurani. Panggilan jiwa.”

“Yang mempersatukan mereka?”

“Kalo dulu ya Ahok. Tanpa Ahok mereka nggak akan ngumpul.”

“Kalo sekarang?”

“Mana aku tau? Nanya yang lain aja napa sih? Masa sih baru lima tahun kamu udah kabur apa masalahnya?”

“Dari tadi jawaban Oom ngaco.”