• Lama baca: < 1 menit →

“Oom, Deddy Corbuzier itu hebat ya. Bisa nampilin Direktur Lalu Lintas Polda Jatim soal kecelakaan maut artis siapa itu ke podcast dia? Kok Pak Polisi mau?” tanya Gori.

“Emang hebat. Ganjar juga pernah tampil, entah kebetulan lagi ke Jakarta atau khusus dari Semarang,” sahut Kamso.

“Ini fenomena apa?”

“Uh serius amat, pake istilah fenomena. Narasumber menyukai saluran yang ditonton banyak orang supaya pesan dia lebih bergema. Kayak Rachel muncul di kanal Boy William soal kabur dari karantina. Mungkin juga soal kepercayaan terhadap host dan rasa nyaman.”

“Nasib TV beneran gimana dong?”

“Stasiun TV? Nggak tau. Tapi pada masih jualan sekalian narok rekaman di YouTube, kan? Atau yang kamu maksud kotak bernama TV?”

“Dua-duanya.”

“Kalo pesawat TV sekarang kan buat gedein layar hape, isinya Netflix dan YouTube?”

“Iya ya. Hahahaha. Lantas?”

“Kembali ke kanal Deddy Corbuzier dan sejenisnya, entah apa namanya, podcast, show, anu TV, atau apalah itu. Media berita akhirnya menyiarkan isi kontennya.”

“Stasiun TV juga, Oom?”

“Nggak tau. Aku nggak pernah nonton pesawat TV. Netflix aku liat di tablet sepuluh inci udah cukup. Kalo laptop berat.”

Pemilik BlogKamso & KamsiBoy William,Deddy Corbuzier,jurnalisme,kecelakaan,lalu lintas,Latif Usman,media,Netflix,podcast,polantas,Rachel Vennya,stasiun TV,talkshow,televisi,Vanessa Angel,YouTube'Oom, Deddy Corbuzier itu hebat ya. Bisa nampilin Direktur Lalu Lintas Polda Jatim soal kecelakaan maut artis siapa itu ke podcast dia? Kok Pak Polisi mau?' tanya Gori. 'Emang hebat. Ganjar juga pernah tampil, entah kebetulan lagi ke Jakarta atau khusus dari Semarang,' sahut Kamso. 'Ini fenomena apa?' 'Uh serius amat, pake...Suatu atau sebuah blog?