↻ Lama baca < 1 menit ↬

Biskuit sandwich atau tumpuk cokelat bonbon dari Roma

Jawaban terhadap pertanyaan itu sudah Anda ketahui. Tapi apakah semua konsumen hirau? Sayang saya tak punya alat survei yang secara metodologis dapat dipertanggungjawabkan. Eh, lagi pula itu urusan produsen, konsultan pemasaran, dan biro iklan serta relasi publik.

Di warung yang ada pohon warunya, pembeli cukup sebut biskuit cokelat merek anu jenis apa atau langsung tunjuk, “Saya minta yang itu.”

Di minimarket dan supermarket yang tak ada interaksi pembeli dan penjual selain di meja kasir, konsumen bisa melihat sekilas, membaca batas kedaluwarsa, lalu mengambil penganan ini.

Saya tak tahu apakah biskuit jenis yang ini, dan lainnya, diiklankan di televisi maupun layanan digital untuk anak dari situs sampai gim (versi KBBI untuk “game(s)“.

Camilan kian beragam dari sisi jenis, nama, dan merek, tapi tak semua konsumen hirau selain rasa dan harga. Iyalah, ngapain capek mikir jauh buat urusan sepele.

Literasi itu obrolan orang sok terpelajar yang punya banyak waktu luang. Eh, tapi barusan saya menemukan komentar di Termwiki: “Sayangnya, tidak ada badan yang mengatur standarisasi terminologi; konsumen sehingga perlu untuk membaca baik cetak untuk memahami apa yang mereka beli.” Serius ya? Ada yang sempat.