• Lama baca: 2 menit →

Lampu di rumah mulai menyala setelah senja tiba

Saya bukan orang romantis pun tidak melankolis. Maka saya tak dapat mendaku sebagai penikmat senja. Bahkan saya pernah mengamati secara acak, sejumlah orang yang piawai melukiskan senja dalam kata-kata, atau mengemasnya sebagai latar tuturan, kadang cuek saja ketika senja tiba.

Tentu saya pernah merasakan senja yang mengesankan. Saya mencoba membedah diri, ternyata keterkesanan terhadap senja selalu terjadi karena matahari turun ke ufuk. Tapi tidak bisa dibalik, setiap kali matahari akan tenggelam saya terkesan. Mungkin karena saya tinggal di kawasan dengan bangunan rapat. Di jalan pun, ketika sering pergi, yang saya lihat adalah bangunan tinggi.

Lampu di rumah mulai menyala setelah senja tiba

Tentu saya pernah terkesan oleh senja tanpa mentari perlahan ditelan cakrawala, tanpa semburat jingga di langit, hanya ada lampu listrik yang menyala menyambut gelap hari, dan oh ya azan magrib dari Toa masjid. Tapi saya hampir selalu lupa terkesan karena apa.

Di pelbagai kantor saya selalu berusaha bermeja dekat jendela. Siang tak perlu menyalakan lampu. Ketika sore di luar menjadi kian temaram? Kadang saya rasakan tapi tampaknya tak saya hiraukan.

Saya memang tidak romantis pun tidak melankolis.

Pemilik BlogMemoalam,bahasa,cuaca,horizon,kaki langit,lingkungan,magrib,melankoli,puitis,romantisisme,senja,sore,ufukSaya bukan orang romantis pun tidak melankolis. Maka saya tak dapat mendaku sebagai penikmat senja. Bahkan saya pernah mengamati secara acak, sejumlah orang yang piawai melukiskan senja dalam kata-kata, atau mengemasnya sebagai latar tuturan, kadang cuek saja ketika senja tiba. Tentu saya pernah merasakan senja yang mengesankan. Saya mencoba membedah...Suatu atau sebuah blog?