• Lama baca: < 1 menit →

Jika teman minta Like di YouTube, Facebook, Insgram, Twitter, dan TikTok

Pakde Waluh minta advis via WhatsApp. Isinya apakah dia harus selalu memenuhi permintaan teman maupun bukan teman untuk membuka kiriman tautan di YouTube, “Saya juga diminta nge-Like, Mas. Gimana enaknya?”

Kamso menanya balik, “Di Facebook, Twitter, dan Instagram juga?”

Pakde Waluh bilang sudah tidak pernah buka FB. Twitter juga. IG tak ada akun. Kalau TikTok dia cuma pernah lihat sebagai video kiriman.

“Ya dibikin enak saja, Pakde. Kalau suka ya kasih jempol. Pakde udah buka link itu bagus, nambahi jumlah pemirsa,” jawab Kamso.

“Masalahnya kalo nggak nge-Like saya ditagih. Rupanya mereka ngecek.”

“Oh, berarti yang nge-Like masih dikit sehingga ketauan. Ya bersedekah aja, kasih Like.”

“Tapi video mereka jelek. Ada yang paduan suara anaknya, ada yang motivasi dari suaminya, ada yang entah apa nggak jelas.”

“Kalo Pakde nggak sreg ya abaikan aja. Nggak bakal jadi urusan polisi, kan?”

“Tapi saya rikuh jé, Mas. Napa ya medsos jadi merepotkan gini? Saya nggak mau buka FB gara-gara pilpres dulu. Orang gampang memusuhi, padahal akhirnya dua kandidat rukun.”

“Kembali ke permintaan via WA ya, Pakde. Yang minta dan nagih Like aja nggak rikuh kok Pakde yang jadi sungkan.”

¬ Gambar praolah: Unsplash.com

Pemilik BlogKamso & Kamsiaktualisasi diri,eksistensi,etiket,instagram,kompetisi,media sosial,pamer,psikologi,TikTok,twitter,YouTubePakde Waluh minta advis via WhatsApp. Isinya apakah dia harus selalu memenuhi permintaan teman maupun bukan teman untuk membuka kiriman tautan di YouTube, 'Saya juga diminta nge-Like, Mas. Gimana enaknya?' Kamso menanya balik, 'Di Facebook, Twitter, dan Instagram juga?' Pakde Waluh bilang sudah tidak pernah buka FB. Twitter juga. IG tak...Suatu atau sebuah blog?