• Lama baca: 2 menit →

Saya memang orang udik. Dulu, abad lalu, ketika ponsel belum lumrah, sehingga dalam angkot kecil Chandra – Cililitan (CH T10) pun belum tentu satu orang yang pakai, ponsel selalu saya matikan. Di kedai biasa pun saya tak memakainya kecuali terpaksa. Risi ketika bertelepon, dengan suara keras pula, dilihati orang.

Dilihati? Saya saja yang nggak pede. Buktinya orang lain nyaman.

Suatu siang di warung tenda pinggir jalan, seseorang menunjuk lauk dengan antena Ericsson. Teman saya, namanya HH, terkesan dan ingin segera punya ponsel, dengan alasan, “Bisa milih makanan dengan cara keren.”

Lalu dengan ponsel mati, bagaimana saya merespons panggilan?

Saya mengaktifkan Veronica (Voice Response and Info Care) versi lama, mesin penjawab dari kartuHalo (kini : Telkomsel Halo), isinya meminta penelepon mengirim pesan ke penyeranta (pager, beeper) saya, melalui nomor singkat Starko.

Padahal sebetulnya, membawa beeper ke mana pun saya malu. Alat versi lama hanya punya satu suara. Kalau tidak segera dipencet akan bip bip terus, padahal barangnya ada dalam tas atau kantong celana, bisa mengganggu orang lain. Beeper dengan nada getar lebih sopan mestinya.

Lantas untuk merespons pesan bagaimana? Ya mencari telepon umum, syukur kalau berupa telepon kartu.

Repot nian ya zaman dulu. Apa boleh buat saya terlalu dini lahir. Saya menyebut beeper sebagai alat Pavlov. Begitu alat berbunyi, bahkan di luar jam dan hari kerja lumrah, berarti urusan pekerjaan.

Saya teringat beeper karena tadi siang menanggapi Sandalian di Twitter.

Adakah drama seputar beeper? Banyak. Pasangan selalu numpang baca alat pacar, suami, atau istri, misalnya. Lalu cekcok.

Seorang wartawati yang meliput suka duka operator dan layanan pelanggan radio paging dulu melaporkan, ada pria membawa beeper rusak yang pating plenyok. Dia minta ganti alat. Alat itu memang milik operator, pelanggan hanya menyewa sebagai bagian dari paket.

Si pria akhirnya mengakui, istrinya mencemplungkan si alat ke wajan berisi minyak panas karena cemburu.

¬ Foto: Motorola

Pemilik BlogKomedi Indonesiabeeper,pager,penyeranta,radio paging,starko,telekomunikasiSaya memang orang udik. Dulu, abad lalu, ketika ponsel belum lumrah, sehingga dalam angkot kecil Chandra - Cililitan (CH T10) pun belum tentu satu orang yang pakai, ponsel selalu saya matikan. Di kedai biasa pun saya tak memakainya kecuali terpaksa. Risi ketika bertelepon, dengan suara keras pula, dilihati orang. Dilihati?...Suatu atau sebuah blog?