• Lama baca: 2 menit →

Mengajari anak kecil menggunakan korek api batang

Saya tahu, anak lanang itu setiap kali melihat korek batang di meja teras selalu ingin menyalakan api. Kalau dia bilang akan saya izinkan dengan syarat. Intinya, boleh kalau saya awasi. Saya minta, di rumah neneknya maupun tempat lain dia harus diawasi orang dewasa, karena api bisa berbahaya.

Cucu tetangga itu sekarang kelas satu SD. Dia bercerita, saat di TK dia diajari Bu Guru menggunakan korek batang, “Caranya kayak Oom, nggak boleh sendiri.” Oom yang dia maksud ya saya. Dia memanggil istri saya Tante. Kadang Eyang.

Saya teringat guru TK anak-anak saya yang pernah berpredikat guru teladan di Jakarta Timur. Pada awal tahun ajaran, Ibu Mundi, nama guru TK itu, selalu mengumpulkan ortu yang duduk rendah di bangku TK, mungkin supaya merasakan jadi bocah kecil.

Pesannya, dalam kalimat versi saya, “Ini taman kanak-kanak, tempat bermain, bukan sekolah. Kalau Bapak dan Ibu ingin putra-putrinya bisa membaca, menulis, dan berhitung, di sini tidak ada. Itu jatahnya guru SD. Jadi untuk calistung, tunggulah anak masuk SD atau, maaf, Bapak dan Ibu cari TK lain. ”

Bu Guru yang juga kepala TK itu juga berujar, “Di sini anak-anak juga memegang gunting, memakai jarum, di bawah pengawasan. Kemungkinan terluka selalu ada tapi itu wajar dan para guru siap mengatasi. Sama seperti anak bermain ayunan dan perosotan, atau berlarian di halaman sebelah kelas, selalu ada kemungkinan terjatuh dan lecet. ”

Saya pernah mendengar, ada seorang ibu dari Jerman bingung mencari kindergarten di Jakarta karena semua TK berbeban berat, memperlakukan anak seperti sudah SD.

Di TK sederhana itu Bu Jerman menemukan taman kanak-kanak, bukan sekolah.

Oh indahnya lagu itu: tempat bermain, berteman banyak, itulah taman kami, taman kanak-kanak…

Di PAUD dan TK tertentu, termasuk di kawasan saya, ada ajaran mengafirkan orang lain. Bahkan di tempat jauh, ada ajaran bikin negara sendiri dengan bahasa yang dipahami anak. Oh, berat banget. Berat rat rat.

Pemilik BlogUmumedukasi,intoleran,kurikulum,parenting,PAUD,pedagogi,pendidikan,psikologi,radikalisme,TK,usia diniSaya tahu, anak lanang itu setiap kali melihat korek batang di meja teras selalu ingin menyalakan api. Kalau dia bilang akan saya izinkan dengan syarat. Intinya, boleh kalau saya awasi. Saya minta, di rumah neneknya maupun tempat lain dia harus diawasi orang dewasa, karena api bisa berbahaya. Cucu tetangga itu...Suatu atau sebuah blog?