• Lama baca: < 1 menit →

WhatsApp Group yang terlalu riuh bikin lelah

Kamsi mengeluh. Sejak pagi tak buka WhatsApp, sore sudah ada 600-an pesan. “Uh, capek,” katanya.

Lalu, “Paling sebel kalo ada grup isinya aktivis WA semua. Kok mereka bisa ya, Mas?”

Kamso menyahut, “Namanya juga orang, macem-macem karena bukan tempe tahu bacem. Mungkin para aktivis jempolan itu malah nggak sempat baca, cuma sempat nulis.”

“Jempolan?”

“Ya, jempol mereka aktif banget. Ibarat orang pegang pistol itu lho, trigger happy, gatal pelatuk.”

“Ada yang nulisnya panjang, kayak surat. Ada yang asal plang plung apa aja, isinya forward lelucon, menginterupsi lalu lintas pesan kabar duka. Ada yang konten sendiri, tapi jualan gudeg di bawah pengumuman lokasi rumah duka dan jam pemakaman.”

Kamso tertawa kecil.

“Ini ratusan pesan belum dibaca enaknya dihapus aja ya, Mas?”

“Terserah, Si. Kalo ada yang buat kamu dan butuh atensi khusus atau follow up pasti akan japri bahkan nelepon. Orang macam itu lagi butuh respons, bukan reaksi dari orang lain.”

¬ Gambar asli dari Kindpng.com, PNGguru.com, Mr Adit Basyar/Yummy.co.id

Pemilik BlogKamso & KamsiKamso,komedi,komunikasi,medis sosial,perpesanan,psikologi,reaksi,respons,WhatsAppKamsi mengeluh. Sejak pagi tak buka WhatsApp, sore sudah ada 600-an pesan. 'Uh, capek,' katanya. Lalu, 'Paling sebel kalo ada grup isinya aktivis WA semua. Kok mereka bisa ya, Mas?' Kamso menyahut, 'Namanya juga orang, macem-macem karena bukan tempe tahu bacem. Mungkin para aktivis jempolan itu malah nggak sempat baca, cuma...Suatu atau sebuah blog?