• Lama baca: 5 menit →

Saat Covid-19 seragam sekolah kurang laku

Menurut Kompas hari ini (Senin, 13/7/2020), penjualan seragam sekolah sedang turun karena Covid-19 mengharuskan siswa belajar di rumah. Namun saat PSBB di Bekasi, Jabar, bulan lalu, cucu tetangga mengantar makanan ke rumah saya dengan seragam Pramuka.

“Lho, kamu kan nggak masuk sekolah, soalnya belajar dari rumah secara online? Kok pake seragam?” tanya saya.

Gadis SMP itu bilang, saat pelajaran via video harus memakai seragam sekolah sesuai hari, termasuk seragam Pramuka.

Seragam dengan bahan tak dijual toko

Tentang seragam sekolah ada banyak cerita. Kedua putri saya sejak TK hingga SMA belajar di sekolah Katolik. Si sulung hingga SMA memakai seragam kotak-kotak, beda warna, beda motif terperinci, dan beda yayasan. Sedangkan si bungsu hanya sampai SMP punya seragam rok kotak-kotak, juga beda yayasan maupun lokasi sekolah.

Bahan rok kotak-kotak itu dari sekolah, tak dijual di toko. Sejak dulu begitu. Malah di TK hingga SMP roknya tinggal beli jadi. Harus selutut, bahkan bisa lebih rendah tergantung postur anak, dan yang pasti tidak ketat. Dengan kaus kaki putih yang juga dari sekolah, sampai di bawah lutut, kulit kaki pun tak kelihatan.

Di SMA, Jakpus, sepatu si sulung pun seragam. Ihwal rok, ortu dipersilakan jahit sendiri. Seluruh murid adalah cewek. Dipimpin oleh biarawati.

Adapun si bungsu, di sekolah campuran pimpinan pastor, di Jaksel, seragam versi Kemendikbud dan yayasan juga juga ada, lalu di luar itu adalah kemeja batik dengan motif bebas. Untuk cowok lebih bebas: jin dan batik. Sepatu cowok maupun cewek hampir semuanya sneakers. Cowok dengan semua nilai pelajaran delapan ke atas boleh gondrong.

Seragam nasional untuk mengatasi tawuran?

Seragam OSIS seingat saya muncul pada 1984. Seragam OSIS SLA yang atas putih dan bawah abu-abu itu seingat saya diperkenalkan setelah tawuran kesekian kali SMA 9 dan SMA 11 di Bulungan, Jaksel, sehingga Mendikbud Nugroho Notosusanto menggabungkan kedua sekolah menjadi SMA 70.

Arsitek Andra Matin kepada Koran Tempo tujuh tahun lalu (7/7/2013) mengenang, ayahnya, yakni Idik Sulaeman, pejabat Kemendikbud, merancang warna seragam OSIS.

Soal seragam dan tawuran versi ingatan saya boleh jadi salah. Menurut artikel di Line, seragam sekolah sudah diputuskan pada 1992, untuk mengatasi kesenjangan sosial ekonomi siswa.

Seragam saya sejak TK apa?

Saya wong lawas. Saat duduk di TK, di Salatiga, Jateng, tak mengenal seragam. Pakaian tiap anak berbeda. Baju dan celana saya dijahit oleh ibu saya.

Setelah masuk SD, saya juga tak mengenal seragam. Memang ada pendidikan kepramukaan, namun seragam pramuka baru mulai kelas empat atau lima. Seragam non-kepanduan saya kenal saat kelas enam, atas putih dan bawah abu-abu, hanya pada hari Senin.

Lalu saya masuk SMA. Mulanya seragam hanya setiap Senin, atas dan bawah putih. Lantas ada seragam Pramuka setiap Sabtu, seingat saya menjelang semester pertama berakhir saat saya kelas satu.

Di luar kedua seragam tadi bebas. Kaus oblong dilarang tetapi berkerah boleh. Baju pun tak harus dimasukkan. Rambut gondrong boleh, tak tergantung pada nilai rapor.

Setelah kuliah di UGM ya bebas. Kaus oblong boleh. Sandal japit juga boleh. Ikut kuliah Ashadi Siregar boleh merokok.

Meskipun begitu saya ditegur dosen saat ambil mata kuliah manajemen di fakultas ekonomi, di Gedung Pusat, dengan dosen dari FE, namun pesertanya campuran dari fakultas humaniora dan teknik, karena saya bersandal.

Soal lain, saat kuliah di FE itu bubar, tapi masih dalam kelas, saya menyalakan sigaret. Di Fisipol, setelah kuliah umum di BPA/Perpustakaan selesai, mahasiswa boleh merokok. Saya pikir sekarang, merokok di kelas memang salah. Tak sesuai adab.

Pak Dosen setelah memarahi saya mengatakan dengan sabar, “Saya dengar di fakultas Anda memang bebas ya?” Setahu saya sih tidak. Tapi di lorong, teras, dan taman memang boleh merokok.

Rok dan baju ketat, cowok SMP bercelana panjang

Sudah belasan tahun saya melihat hal aneh dari kacamata saya.

Tak sedikit cewek SMA, entah negeri entah swasta, yang mengenakan seragam putih dan abu-abu, memakai rok ketat dan blus ketat. Bahkan kalau roknya panjang pun blusnya ketat juga. Blus itu berpotongan pendek, kadang tak perlu dimasukkan.

Kalau bukan seragam sih bagi saya tidak apa-apa. Bahkan misalnya sekolah membolehkan rok mini, atau pants sekali pun, dengan tank top, juga tak soal bagi saya. Kalau seragam ya sama dong.

Dari konten Bintang, Fimela pernah menampilkan seragam cewek “yang jadi incaran guru BP“. Tentu di Twitter, Instagram, dan Facebook banyak contoh.

Seragam cewek SMA yang beragam

Hal lain yang membuat saya heran, ada SMA negeri yang mewajibkan semua siswi pakai rok panjang. Wajib. Semua. Apa pun latar setiap siswi — demikian yang saya dengar dari ortu siswi. Padahal dari Kemendikbud setahu saya tak mewajibkan rok panjang. Tolong dikoreksi kalau saya salah.

Juga membuat saya heran, ada juga SMP dan bahkan SD yang mewajibkan siswa bercelana panjang. Tetapi saya tak tahu, itu sekolah negeri atau partikelir.

Celana panjang dan kaus lengan panjang juga pernah saya lihat diterapkan untuk pakaian olahraga. Mungkin supaya kulit tak terbakar matahari. Namun di rumah, cowok-cowok kecil itu saat bermain memakai celana pendek dan kaus lengan pendek, malah ada yang mengenakan kaus basket tanpa lengan.

Perempuan berpantalon

Soal lain? Pantalon seragam bagi perempuan juga kabarnya diwajibkan di sejumlah instansi pemerintah (termasuk sekolah negeri) dan bahkan BUMN, apa pun latar si karyawati. Ada yang bilang bukan wajib tapi dianjurkan.

Barangkali memang anjuran. Toh perempuan yang jadi menteri belum tentu selalu berpantalon. Yang perlu diperjelas adalah alasan anjuran agar setiap perempuan bercelana panjang.

Apakah perempuan harus pakai rok atau berkain kebaya? Nggak. Terserah selera masing-masing. Tapi kalau sampai diwajibkan selalu bercelana panjang saat bekerja kok aneh.

https://blogombal.com/wp-content/uploads/2020/07/20200713_171420-picsay_1-700x394.jpghttps://blogombal.com/wp-content/uploads/2020/07/20200713_171420-picsay_1-150x150.jpgPemilik BlogUmumASN,Covid-19,fashion,fesyen,gaya hidup,mode,pantalon,pns,sekolah negeri,sekolah swasta,seragam,virus koronaMenurut Kompas hari ini (Senin, 13/7/2020), penjualan seragam sekolah sedang turun karena Covid-19 mengharuskan siswa belajar di rumah. Namun saat PSBB di Bekasi, Jabar, bulan lalu, cucu tetangga mengantar makanan ke rumah saya dengan seragam Pramuka. 'Lho, kamu kan nggak masuk sekolah, soalnya belajar dari rumah secara online? Kok pake...Suatu atau sebuah blog?