• Lama baca: 2 menit →

Banner memang menggoda. Sudah tahu dan sadar tak butuh bahkan misalnya punya duit pun takkan membeli, tetap saja saya klik iklan subwoofer saat membaca berita di ponsel.

Iklan adalah informasi. Kadang saya menengok TV saat TVC tertayang. Untuk YouTube saya belum berminat mencoba versi berbayar agar terhindar dari iklan. Kalau tak berminat menonton iklan tinggal tunggu tombol skip muncul.

Maka inilah gombalan soal konsumsi dan rayuan reklame…

  1. Mau beli karena butuh atau cuma ingin? PSBB dan KDR/WFH semakin membuktikan banyak barang tak terlalu kita butuhkan.
  2. Di luar PSBB Covid-19 kenapa orang beli ini dan itu yang bukan kebutuhan? Karena ingin memanjakan diri sekalian mensyukuri perolehan rezeki.
  3. Buat apa beli barang mahal tapi nggak bisa dibawa pergi buat dipamerkan? Lho, media sosial itu memberi ruang luas untuk pamer barang yang ada di rumah.
  4. Pamer itu nggak bagus kan, soalnya riya? Memang nggak, tapi kalau orang masih mau pamer diri berarti masih normal, masih punya kesadaran sosial, karena masih butuh perhatian dan pengakuan orang lain.
  5. Apa artinya beli barang mahal karena nilai tambahnya berlebihan melebihi kewajaran? Untuk mengapresiasi capaian diri. Padahal dari industri garmen kita tahu, dulu sepotong Levi’s 501 itu dipesan pemilik merek seharga 15 USD, bahkan pesanan jeans di pabrik garmen milik desainer cantik tokoh PAPMI pernah ditawar 10 USD tapi dia menolak.
  6. Kalau jeans kan kelihatan, begitu juga tas dan arloji, dipakai ke luar rumah. Kalau pakaian dalam (perempuan) yang mahal, padahal nggak buat kencan maupun berbagi swafoto? Lihat poin #2 dan #5.
  7. Beli, beli, dan beli. Emang bermanfaat bagi orang lain, bangsa dan negara? Konsumsi itu menggerakkan ekonomi. Tentu menabung dan investasi juga perlu. Begitu juga bederma sebagai bentuk bersyukur tanpa sebelah tangan melihat apalagi mencatat.
  8. Khusus untuk audio, emangnya barang bagus dan mahal bikin apresiasi musikal meningkat? Tak semua orang berkelas kuping audiophile tapi kalau ada duit ya hak dia untuk beli. Ini serupa pertanyaan apakah beli pulpen jutaan rupiah akan bikin tulisan tangan lebih indah.
Pemilik BlogUmumbelanja daring,belanja online,iklan,konsumsi,konsumtif,media sosial,nafsu,narsisisme,pamer,ReklameBanner memang menggoda. Sudah tahu dan sadar tak butuh bahkan misalnya punya duit pun takkan membeli, tetap saja saya klik iklan subwoofer saat membaca berita di ponsel. Iklan adalah informasi. Kadang saya menengok TV saat TVC tertayang. Untuk YouTube saya belum berminat mencoba versi berbayar agar terhindar dari iklan....Suatu atau sebuah blog?