• Lama baca: < 1 menit →

Usia kaus ini sembilan tahun, terbikin pada 2011, dicetak dengan sablon manual, bukan cetak digital direct to garment. Kondisi kaus masih layak pakai, tak hanya untuk di rumah.

Gaya visual kaus berlagak rada pop art, bermain raster kasar yang diubah menjadi vektor, lalu dipindahkan ke film untuk disorotkan ke klise sablon berupa kotak bingkai dengan kain sutra sintetis. Maka sebutan lengkapnya, dulu, adalah silkscreen printing. Akhirnya disebut screen printing saja. Lalu bahasa Indonesia menyebutnya cetak saring.

Tentu saya tidak menyablon sendiri. Serahkan saja kepada ahlinya. Memang sih saya pernah belajar sablon pada abad lalu, dari buku kemudian berguru kepada teman kuliah bernama Harmanto di Bantul. Ternyata merepotkan. Lebih mudah belanja bahan di Ngasem Baru, Yogyakarta.

https://blogombal.com/wp-content/uploads/2020/05/P_20200505_095056_copy_768x1050-700x957.jpghttps://blogombal.com/wp-content/uploads/2020/05/P_20200505_095056_copy_768x1050-150x150.jpgPemilik BlogGambarbahasa,cetak digital,cetak saring,desain grafis,kaus,sablon,screen printing,t-shirtUsia kaus ini sembilan tahun, terbikin pada 2011, dicetak dengan sablon manual, bukan cetak digital direct to garment. Kondisi kaus masih layak pakai, tak hanya untuk di rumah. Gaya visual kaus berlagak rada pop art, bermain raster kasar yang diubah menjadi vektor, lalu dipindahkan ke film untuk disorotkan ke klise...Suatu atau sebuah blog?