• Lama baca: 7 menit →

Totot Indrarto Agustus 2019 di kantor Beritagar.id Jalan Jatibaru 28 Jakarta

Malam itu, sekitar pukul sepuluh, di kantor hanya tinggal saya. Mendadak telepon ekstensi di meja berdering. Jarang orang menelepon ruang kerja saya malam, pakai telepon kabel.

“Selamat malam. Masih deadline, Bos?” suara dari seberang itu menyapa.

Malam itu, sekitar 2004-2005 – ya, empat belas tahun silam – sebuah telepon misterius sok akrab membuat saya segera bertanya balik, “Malam. Maaf ini dari siapa?”

“Saya Totot Indrarto. Pakabar?”

Ya. Saya tahu nama itu tapi tak kenal orangnya. Bersua pun belum pernah. Dialah si narablog Pakde.com.

Saat itu saya sudah ngeblog. Dengan nom du guerre Kéré Kemplu. Saya tak menampilkan jati diri. Karena malu dan kikuk. Saya belum pakai Twitter apalagi Instagram. Facebook tampaknya belum. Friendster pun seingat saya tidak. Presensi daring saya hanya di blog.

Lalu dari mana dia bisa menelepon nomor saya di kantor?

Sok detektif

Totot orang biro iklan. Dengan rasa ingin tahu yang besar. Dia mengumpulkan dari sejumlah posting saya bahwa saya berkantor di kawasan Kota, pecinan Jakarta.

Lalu dia minta tolong sejawat yang sering berurusan dengan media untuk menyelisik kantor redaksi apa saja yang ada di Kota. Terutama yang menjadi bagian dari Kompas Gramedia.

Ketemu. Lalu dia tinggal memeriksa alamat dan susunan redaksi. Akhirnya berderinglah telepon kabel di meja saya itu. *

Beberapa bulan kemudian kami janjian. Di Plaza Semanggi. Saya tawarkan bersantap sushi. Dia menolak.

“Janganlah. Ini tanggal tua. Kita cari yang murah saja,” katanya.

Dia banyak bercerita. Dengan bahan terentang dari timur hingga barat, utara belok ke tenggara. Lebih penting lagi: dia berteman dengan sejumlah orang yang saya kenal. Ada irisan tumpang dalam himpunan lingkaran.

Seperti dalam blognya dia juga bercerita tentang classic rock terutama art rock – suatu hal yang hanya saya pahami seujung kuku.

Artinya dia memang tua, segenerasi dengan saya, tapi dia memahami dan menyelami kekinian. Tak seperti lazimnya orang tua: musik terbaik datang dari masa lalu tersebab hanya itu yang mereka kenal.

Tapi tidak untuk Totot. Dia mengikuti musik indie Indonesia. Paham beberapa skena.

Meskipun begitu kami dapat bersua dalam slogan tak tahu diri yang dulu sering diangkat Ifeb dari stasiun classic rock M97FM: too old to rock ‘n roll but too young to die. Merujuk Jethro Tull.

Slogan itu belakangnya menjadi bio di akun Twitter dia. Dengan inversi: kematian di depan.

Tapi ada hal yang bukan soal tua atau muda. Totot setahu saya jarang pakai arloji – ah, ini pun istilah tua karena konon Google lebih mencatat jam tangan.

Belajar tepat waktu tak tergantung jam tangan katanya suatu kali. Dia terkesan ajaran Pater Drost, seorang Jesuit pendidik, dulu kepala SMA Kanisius, Jakarta, alma maternya. Dia senang ketika Drost buka sekolah di Alam Sutra.

Totot juga pernah memensiun ponsel. Hanya sebentar, setelah itu dia pakai lagi. Dialah salah satu penganjur penggunaan BlackBerry kepada saya saat peranti itu belum (sempat) menjadi mode. Tapi alat yang saya coba milik Yusro M.S. Benar, BB lebih sakti ketimbang Symbian apalagi Epoc saya.

Bola, keprihatinan

Setelah pertemuan pertama kami pun bersua beberapa bulan kemudian – mungkin malah setahun kemudian. Ada Wicaksono Ndoro Kakung dan Atta Ratna Negeri Senja. Khas blogger era lawas: kopdar, seolah ada perasaan senasib.

Setelah itu saya tak jumpa dia. Pada 2007, setelah Lebaran, kami janjian. Saya jemput dia di rumahnya, Alam Sutra. Ternyata benar ancar-ancar yang dia sampaikan via telepon: nomor rumahnya berupa mural pemain bola dengan nomor punggung 10.

Untuk sepak bola, itu bukan topik yang saya pahami. Tapi di kemudian hari saya menyimak penjelasan dia ihwal karut-marut persepakbolaan Indonesia.

Dia, di mata saya, sangat paham sepak bola Indonesia. Apalagi kantornya pernah menyelenggarakan Liga Dunhill, tahun 1990-an. Itulah sebuah gelaran yang membuat media menyoroti kagum Jeanette Sudjunadi, juragan Cipta Citra, nama lama Satucitra.

Perihal keawaman saya soal sepak bola, Totot sedih. Terlalu, katanya. Lalu ada kata susulan: payah.

Saya tak sakit hati. Totot hanya orang kesekian dengan ucapan serupa. Bedanya, Totot paham banget soal sepak bola – seperti halnya Hedi Novianto dan Zen R.S., dua narablog paham bola yang saya kenal. Tapi kedua orang itu tak pernah menyatakan keprihatinan.

Cerita Totot yang saya ingat soal bola adalah demi Liga Dunhill dia sowan seorang jawara penguasa tontonan stadion. Kalau tak salah di Medan. Totot bilang akan mencium kaki si jagoan yang dia sapa Abang asalkan gelaran kantornya tak diganggu.

Suka memerintah

Pernah Totot minta saya mendesain sesuatu. Dengan berat hati akhirnya saya turuti. Saya bukan desainer. Dia punya banyak kawan desainer profesional.

Dia menuggui saya bekerja. Selalu berceloteh. Mengoreksi. Memberi masukan.

Saya pun kesal. “Kamu demanding banget. Terlalu lama jadi bos, Tot. Saat ini kamu bukan art director yang arahin aku.”

Dia menyahut santai, “Udahlah sampean kerja aja terus. Orang modern mengenal pembagian tugas.”

Diferensiasi kerja adalah bagian dari perjalanan peradaban manusia. Untuk soal ini, apalagi menyangkut revolusi industri sampai post-modernism Totot takkan lelah berceramah.

Dalam berbincang Totot sering meletakkan pikiran lawan bicara dari sisi premis. Dia urutkan alur pikir orang kalau hanya berpendapat semaunya.

Maka ketika mengomentari posting di blog saya tentang kekerasan FPI di Monas, dengan korban antara lain Guntur Romli, Totot tak bisa langsung menerima intoleransi berkelindan dengan kekerasan.

Kurang lebih dia menulis, akar kekerasan memang ada dalam masyarakat kita, dengan maupun tanpa FPI. Lihat saja tayangan TV soal tawuran dan persekusi.

Catatlah yang rapi

Pertemuan terakhir saya dengan Totot berlangsung singkat, saat antre menukar tiket pidato Kebudayaan Seno Gumira Ajidarma di TIM, 10 November lalu.

Saya tinggalkan dia dan Ricky Pesik karena saya harus mengganjal perut. Acara bakal sampai pukul sepuluh malam, padahal perut saya belum terisi sejak sore, tapi di TIM tak ada kedai karena sedang direnovasi, sehingga saya harus menyeberang ke rumah makan Garuda seberang TIM. Kalau perut saya kosong terlalu lama, asam lambung bisa naik. Totot selalu ingatkan saya untuk jaga kesehatan. Pasti dia maklum.

Saya beberapa kali melihat – dan pernah bertemu – Totot jalan bareng Ricky atau dengan Hasan Aspahani. Seperti Thompson dan Thomson, atau Batman dan Robin.

Totot tak pernah peduli dengan komentar saya ini. Karena memang tidak penting. Kurang orisinal. Tidak catchy apalagi quotable.

Totot hanya terkesan oleh cerita dan ucapan yang aneh atau unik, lalu lain waktu akan mengingatkan, padahal si pengucap sudah lupa. Manusiawi sih. Baik bagi Totot maupun orang yang omongannya dia ingat.

Tapi Totot itu pelupa yang baik. Tempo hari saya melunasi utang saya. Dia lupa pernah mengutangi saya. Maka saya capture catatan saya perihal utang itu, lengkap dengan tanggal, dan saya masih ingat bagaimana dia di tengah rapat malam hari minta tolong seseorang untuk mentransfer uang kepada saya.

Memang sih Totot punya utang janji kepada saya. “Mas, kapan-kapan aku ajak ke Jatiwangi.” Niat itu belum sempat terpenuhi. Saya dengar dia sakit.

Terima kasih, Tot. Selamat menjalani kehidupan yang lain. Apa pun skenarionya.

Maafkan aku, tak bisa ke rumahmu maupun antar ke pemakaman karena sedang mudik Natal.

Percakapan WhatsApp Oktober 2019

[10/25, 05:57] Antyo ®: Pagi Tot.
Aku masih punya utang sama kamu.🙈
Minta nomor rekeningmu ya 🙏😇
[10/25, 12:02] Totot 2015: Pagi
[10/25, 12:02] Totot 2015: Opo meneh iki
[10/25, 12:02] Antyo ®: Siang 😇
[10/25, 12:02] Totot 2015: Kapan bisa jumpa sambil ngopi
[10/25, 12:03] Totot 2015: Waduh, terlalu lama
[10/25, 12:04] Antyo ®: Tapi aku ingat dan nyatat. Bahkan kamu transfer minta tolong orang krn kamu lagi rapat di DKJ. 🙏😇😇
[10/25, 12:05] Totot 2015: Buset
[10/25, 12:05] Totot 2015: Ya nanti aku kasih saat ketemuan
[10/25, 12:06] Antyo ®: Sekarang aja 😇
[10/25, 12:08] Totot 2015: Bank apa
[10/25, 12:08] Antyo ®: BCA atau lainnya bisa

— sensor – –

[10/25, 12:20] Totot 2015: Duh
[10/25, 12:21] Totot 2015: Kok sebanyak itu
[10/25, 12:21] Totot 2015: Gak mungkin deh
[10/25, 12:21] Antyo ®: Bener Tot. Suwun. 🙏🍎
[10/25, 13:04] Totot 2015: Terima kasih, Mas 🙏
[10/25, 13:52] Antyo ®: Aku yang berterima kasih 😇🙏🍎
[10/25, 13:59] Totot 2015: Sekarang situ punya utang ketemuan saya ya
[10/25, 13:59] Totot 2015: Tolong dicatat dengan rapi begitu juga
[10/25, 13:59] Totot 2015: 🤭

Percakapan WhatsApp November 2019

[11/10, 19:12] Antyo ®: Sori Tot. Aku ke warung padang seberang, supaya asam lambung gak naik. Soalnya kalo sampai jam 10 gak keisi bisa mual 😄
[11/10, 19:18] Totot 2015: Siap

Totot Indrarto dan Hasan Aspahani, Agustus 2019 di kantor Beritagar.id Jalan Jatibaru 28 Jakarta
Saya, Hasan Aspahani, dan Totot, 22 Agustus 2019 ° Foto: Iqbal Prakasa

*) Narablog lain yang menyelidiki ala detektif adalah Hasan Aspahani. Dia langsung menelepon dari Batam, tapi dengan bekal clues yang memadai.

Pemilik BlogUmumfilm,obituari,Obituarium,periklanan,sepak bola,Totot IndrartoMalam itu, sekitar pukul sepuluh, di kantor hanya tinggal saya. Mendadak telepon ekstensi di meja berdering. Jarang orang menelepon ruang kerja saya malam, pakai telepon kabel. 'Selamat malam. Masih deadline, Bos?' suara dari seberang itu menyapa. Malam itu, sekitar 2004-2005 - ya, empat belas tahun silam - sebuah telepon misterius sok...Suatu atau sebuah blog?