• Lama baca: 4 menit →
Yon Koeswoyo (paling kanan) bersama Koes Plus dalam sebuah sampul kaset kompilasi. Foto pose ini berasal dari sampul kaset album Koes Plus Volume 10 (1974) oleh PT Remaco. Remaco

Untuk menyurati drummer Susy Nander, kekasihnya yang sedang tur ke Eropa bersama bandnya, Dara Puspita, pemusik Yon Koeswoyo (1940-2018) mengenang, “.[…] memerlukan waktu berjam-jam untuk menggoreskan kata demi kata.”

Lalu, “Aku mencurahkan segala kalimat, dan mencapai kenikmatan dengan membaca deretan kata-kata mesranya.”

Saat itu, menjelang dasawarsa 1960 selesai, Koes Plus, band kelanjutan Koes Bersaudara, sudah bergema. Begitu pula Dara Puspita, band cewek dari Surabaya, Jawa Timur.

Yon, gitaris ritem dan penyanyi, serta penulis sebagian lagu cinta anak-anak Koeswoyo, adalah pacar Susy.

Kisah surat itu tertuang dalam buku Panggung Kehidupan Yon Koeswoyo, yang ditulis oleh Yon (Candra Publishing, Jakarta, 2005; editor M. Ch. Amien dan Isdiyanto).

Hari ini, Jumat Kliwon 5 Januari 2018, Yon wafat di Tangerang Selatan, Banten, dalam usia 77 tahun. Menurut cerita pengamat musik Indonesia, Bens Leo, Yon mengalami komplikasi yang bermula dari liver (detikHealth, 5/1/2018). Sebelumnya, satu setengah tahun lalu, terkabarkan bahwa Yon sakit paru dan jantung (Tempo.co, 10/6/2016).

Dari empat personel Koes Plus, yang sudah berpulang sebelum Yon adalah Koestono Tonny Koeswoyo (1936 – 1987) dan Murry Kasmuri (1949 – 2014; ia adalah “plus”, bukan anggota keluarga Koeswoyo).

Catatan personal

Koes Plus, dan Yon Koeswoyo, adalah lagu-lagu cinta mendayu — lagu yang “sweet” menurut rumusan Tonny kepada adik-adiknya — namun mereka menolak disebut cengeng.

Akan tetapi belum terungkap berapa lama Koesjono (kemudian ditulis Koesyono, dan lebih dikenal sebagai Yon) menulis lirik lagu. Yang kemudian terungkap, olehnya sendiri, adalah kisah di balik lagu.

Misalnya lagu “Bunga di Tepi Jalan” (Volume 4, 1971; ejaan asli: “Bunga Ditepi Djalan”) yang trekjing-trekjing dan tak mendayu lesu itu.

Suatu kali kutemukan / Bunga di tepi jalan / Siapa yang menanamnya / Tak seorang pun mengira / Bunga di tepi jalan / Alangkah indahnya / Oh… kasihan / Kan kupetik / S’belum layu

Kelanjutannya: Di sekitar belukar / Dan rumput gersang / Seorang pun takkan mau memperhatikan / Biarlah kan kuambil / Penghias rumahku

Lagu itu mengisahkan seorang groupie daerah yang ikut ke rumah Yon, yang masih lajang, di Jakarta. Yon, dalam buku tadi, menyebutkan karyanya, “Sebuah lagu yang tegar dan tidak cengeng, yang luas arti ceriteranya.”

Yon pun menikahi gadis itu. Di kemudian hari kericuhan rumah tangga mereka, lengkap dengan aneka dramanya, menjadi hidangan tabloid pada 1990-an. Kemudian Yon bercerai, dan setelah menduda beberapa tahun ia menikahi Bonita.

Yon bertanggung jawab terhadap groupie itu namun tetap memendam rasa bersalah terhadap Susy. Tonny, tetua Koes Plus, membaca kegundahan adiknya yang empat tahun lebih muda itu. Ia ciptakan “Andaikan Kau Datang” untuk Yon nyanyikan: Andaikan kau datang kemari / Jawaban apa yang kan kuberi.

Perut keroncongan

Suara Yon yang cenderung tinggi, dan kadang melankolis (misalnya dalam “Why Do You Love Me”), dalam Koes Plus terpaketkan sebagai duet dengan sang adik, Yok Koesroyo (kini 74) yang pemain bas. Tonny yang melatih kedua adiknya.

“Ketika Mas Tonny melatih vokal aku dan Yok, bisa-bisa kami enggak makan siang atau makan malam. Duet-duetan kami harus benar dan memuaskannya. Kalau tidak, hukumannya berjalan terus, alias perut keroncongan,” Yon mengungkapkan kepada Ais Suhana dalam sebuah buku.

Ais adalah promotor yang menghidupkan reuni Koes Plus awal 1990-an. Ia menuliskan hubungan dirinya dengan keluarga Koes dalam buku Kisah dari Hati: Koes Plus Tonggak Industri Musik Indonesia (Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2014; editor Theodore K.S.).

Yon adalah urutan keenam dari sembilan bersaudara anak-anak Raden Koeswojo (kemudian ditulis Koeswoyo) dan Raden Roro Atminu, lahir di Tuban, Jawa Timur. Ia menyebutkan dirinya punya darah biru Tuban.

Pak Koeswoyo, yang di kemudian hari juga menciptakan lagu untuk band anak-anaknya (misalnya “Layang-layang” dan “Mari-mari”), adalah seorang amtenar di dewan kota. Setelah hijrah ke Jakarta ia menjadi pegawai bank.

Yon mengenang, saat bersekolah di sekolah rakyat, di Tuban, ia tak disuruh gurunya membawa gelas setiap ada acara minum susu gratis untuk perbaikan gizi. Ia menduga pihak sekolah menganggapnya hidup cukup, padahal ia tak pernah minum susu, hanya minum tajin.

“Aku hanya bisa melongo saja,” Yon mengenang dalam buku Panggung Kehidupan… . Dasar belum rezeki, ia menghibur diri.

Ramalan paranormal

Tentang kemuraman, Yon tak hanya bicara seputar cinta. Lagu pertama yang ia ciptakan untuk Koes Plus, “Biar Berlalu” (Volume 1: Dheg Dheg Plas, 1969), ia gubah untuk mengenang band sebelumnya, Koes Bersaudara, yang ia sebut “sempat porak poranda”.

Lagu ini menjadi hikmah bagi Yon dan Koes Plus. Ia, yang tak pernah mendapatkan jatah untuk menyanyikan lagu-lagu The Bee Gees dalam Koes Bersaudara, menyadarkan Tony tentang pentingnya lagu “sweet“.

Setelah Remaco, perusahaan rekaman yang membesarkan Koes Plus, surut dan pasar jenuh terhadap band itu, Yon pada awal 1980-an berinvestasi di perumahan. Misalnya di Pondok Indah, Jakarta Selatan, untuk disewakan kepada ekspatriat.

Saat krisis moneter menerpa Indonesia, 1998, ia jual rumah itu dan ia tetap tinggal di Pamulang, Tangerang Selatan, Banten — dalam rumah yang ia bangun sendiri.

Uang hasil penjualan rumah ia serahkan untuk kedua anaknya dan ibunya. “Mereka kuberi kesempatan untuk hidup merdeka dan mandiri,” Yon menulis. Akan tetapi uang di tangan mantan istri dibawa kabur penipu.

Perihal perjalanan hidup, Yon dalam Panggung… pernah mengisahkan surat seorang paranormal pada 1973. Isinya terkaan terhadap nasib para personel Koes Plus. Yon disebut ibarat bungkus pengawet obat.

Puluhan tahun kemudian Yon sadar. Dirinyalah yang merawat Koes Plus dengan sekian banyak pertunjukan. Ia menulis, “Akulah yang meneruskan dan mengawetkan…”

Dimuat dalam Beritagar.id (Jumat, 5 Januari 2018)

Pemilik BlogSalinanKoes Plus,musik,Obituarium,yon koeswoyoYon Koeswoyo (paling kanan) bersama Koes Plus dalam sebuah sampul kaset kompilasi. Foto pose ini berasal dari sampul kaset album Koes Plus Volume 10 (1974) oleh PT Remaco. | Remaco Untuk menyurati drummer Susy Nander, kekasihnya yang sedang tur ke Eropa bersama bandnya, Dara Puspita, pemusik Yon Koeswoyo (1940-2018) mengenang, '. memerlukan waktu berjam-jam...Suatu atau sebuah blog?