• Lama baca: < 1 menit →

lapak koran memanfaatka pagar trotoar di stasiun tanahabang jakarta

Ada dua hal yang laik sorot. Pertama: pemagaran trotoar. Ini sesuatu yang aneh dan mengganggu pejalan kaki. Tapi pemasang pagar mungkin lebih berpikir bagaimana mencegah mobil angkutan umum berhenti sembarangan dan mengalangi pedagang kaki lima berlapak semaunya.

Kedua: penjual koran tak kehabisan cara. Pagar justru menjadi lapak. Penjualnya menjajakan dari bahu jalan, memunggungi lali lintas; pembelinya ada di trotoar. Namun ada yang mengusik rasa ingin tahu: kenapa jumlah nama korannya hanya lima? Rasanya kian berkurang lapak yang menyediakan belasan koran dan tabloid.

Sebuah cerita dari Stasiun Tanahabang, Jakarta Pusat.

Pemilik BlogMemokaki lima,kereta api,koran,media cetak,pedestrian,stasiun tanahabang,tabloid,trotoarAda dua hal yang laik sorot. Pertama: pemagaran trotoar. Ini sesuatu yang aneh dan mengganggu pejalan kaki. Tapi pemasang pagar mungkin lebih berpikir bagaimana mencegah mobil angkutan umum berhenti sembarangan dan mengalangi pedagang kaki lima berlapak semaunya. Kedua: penjual koran tak kehabisan cara. Pagar justru menjadi lapak. Penjualnya menjajakan dari...Suatu atau sebuah blog?