• Lama baca: < 1 menit →

logo pejaten village di jakarta selatan

Hari gini, mal yang baik harus ramah fotografi. Kalau mal sering terunggahkan di jejaring sosial maka itu bagus untuk promosi. Bagi saya, foto ini mewakili mata saya: logo trimatra Pejaten Village, Jaksel, justru kurang menonjol dari arah dalam mal. Kalau dari luar mal memang kentara (memang itu tujuannya), tapi orang-orang yang ingin berfoto bersama logo agak kerepotan kalau di luar.

Apa masalahnya? Akses pejalan kaki. Kalau akses pejalan kaki dari depan mal, sebelah logo, pasti banyak yang berfoto. Titik itu sekalian menjadi tetenger tempat berjumpa.

Banyak desain luar gedung yang mengabaikan pejalan kaki karena dalam gambar rendering/sketsa arsitektur gedung, manusia hanya menjadi pelengkap pemandangan. Tapi, akses pejalan kaki berarti mengundang angkot dan taksi ngetem, kan? Ah, buat apa menggaji satpam.

Pemilik BlogMemoarsitektur,desain,pedestrian,pejalan kaki,pejaten village,trimtaraHari gini, mal yang baik harus ramah fotografi. Kalau mal sering terunggahkan di jejaring sosial maka itu bagus untuk promosi. Bagi saya, foto ini mewakili mata saya: logo trimatra Pejaten Village, Jaksel, justru kurang menonjol dari arah dalam mal. Kalau dari luar mal memang kentara (memang itu tujuannya), tapi...Suatu atau sebuah blog?