• Lama baca: < 1 menit →

Dulu saya mengetahui koran ini sebagai bungkus dari toko. Korannya tak dijual eceran, hanya untuk pelanggan, yang tentu saja dari kalangan Cina (generasi tua). Setelah Soeharto naik tahta, apapun yang berbau Cina (dari tulisan hingga perayaan Imlek) dilarang karena dianggap berbahaya. Koran umum dilarang memuat iklan yang ada aksara Cinanya, bahkan media asing berbahasa Mandarin juga dilarang masuk — padahal (atau justru karena?) yang melarang tak bisa membacanya.  Koran Harian Indonesia adalah satu-satunya koran berbahasa Mandarin yang boleh terbit pada masa Orba. Bahkan koran terbitan Yayasan Indonesia Pers ini dikontrol oleh sebuah unit dari sebuah seksi di Bakin (kini BIN)  yang mengurusi “masalah Cina”.

Sampai hari ini Harian Indonesia masih terbit. Koran ini terbit sejak 12 September 1966, lalu pada 2000 dibeli PT Emas Indonesia Duaribu, dan akhirnya pada 2004 dibeli PT Mahaka Media Tbk. (sekelompok dengan Republika, JakFM, Jak TV). Sejak 2006 konten koran ini menjadi bagian dari jaringan koran Mandarin Malaysia Shin Chew (MCIL Media Sdn. Bhd.). Agen iklan untuk koran ini misalnya Doremindo.

Menurut Alwi Shahab (2009), dengan mengutip sumber dalam, Harian Indonesia saat itu tirasnya 17.000, padahal pada masa Orba bisa mencapai 80.000. Yang saya tidak tahu adalah apa nama koran ini dalam bahasa Mandarin.

Pemilik BlogUmumDulu saya mengetahui koran ini sebagai bungkus dari toko. Korannya tak dijual eceran, hanya untuk pelanggan, yang tentu saja dari kalangan Cina (generasi tua). Setelah Soeharto naik tahta, apapun yang berbau Cina (dari tulisan hingga perayaan Imlek) dilarang karena dianggap berbahaya. Koran umum dilarang memuat iklan yang ada aksara...Suatu atau sebuah blog?