• Lama baca: 4 menit →

JUSTRU KARENA TERBUKA MAKA ADA PEMBATASAN.

Saya mendengar rasan-rasan. Hanya dari beberapa orang. Bermain-main di Facebook dan Twitter tak mengasyikkan lagi. Bahkan di Foursquare pun begitu. Manajemen kantor masing-masing menerapkan sejumlah aturan mana yang boleh dan mana yang dilarang.

“Reseh,” keluh salah seorang. “Nggak asyik,” kata lainnya di tempat terpisah. “Apa harus ada aturan segala?” tanya yang berikutnya via email.

Rahasia dinas

Kalau soal internal dan konfidensial di tempat kerja, saya rasa semua paham. Tanpa harus ada peraturan khusus untuk media sosial pun semua peraturan kantor, setidaknya etika bersama, melarang pembocoran rahasia lembaga.

Bagaimana dengan yang tergolong bukan rahasia perusahaan? Saya pikir masalahnya dari dulu sama, hanya saja sekarang orang dituntut lebih berhati-hati karena lontaran di media sosial itu tersiar dan tercatat. Banyak yang membacanya, menafsirkannya, menyebarkannya, lalu menafsirkan ulang.

Ngetwit dan check in ke sebuah kantor calon klien bisa saja dianggap konfidensial. Lho itu bukan kunjungan rahasia, kan? Yang bukan rahasia tak berarti boleh maupun harus disiarkan segera.

Tetapi, yah, kita tahu media sosial mendatangkan euforia yang bisa bikin kikuk sebagian orang. Setiap pengguna berkemungkinan terikat sejumlah pembatasan karena posisi maupun statusnya. Itu adalah konsekuensi.

Posisi, status

Misalkan saya ikut juragan Bakso Empuk. Sebagai pribadi, secara perorangan, saya tetap tak bebas menyindir apalagi menyerang Bakso Alot di blog, Facebook, dan Twitter. Posisi saya sebagai tukang cuci piring, yang kebetulan berhobi mencicipi aneka bakso, tetaplah dianggap mewakili Bakso Empuk.

Adapun status saya sebagai pegawai Bakso Empuk menjadikan saya harus menjaga kepentingan semua sejawat dan juragan. Saya boleh saja merasa mandiri dan merdeka dalam menyampaikan opini perbaksoan. Tetapi ketika lontaran saya negatif, yang merasa tak enak bahkan dirugikan adalah segenap anggota tim Bakso Empuk.

Padahal dua hal itu tak ada hubungannya dengan “rahasia perusahaan”, kan? Iya sih, tetapi menyangkut hubungan antarwarung dan citra Bakso Empuk di mata masyarakat.

Bagaimana jika pada mulanya aman, kemudian karier saya meningkat menjadi pencicip bakso kelas wahid, dan akhirnya saya keluar dari Bakso Empuk untuk membuat Lembaga Baksologi?

Tak ada masalah, sih. Malah bagus. Begitu pula ketika saya membantu sebuah warung baru sebagai konsultan resep dan penyajian sampai sukses sebagai Baxo Axoy. Itu keren. Lalu orang lain juga ingin dibantu. Itu hebat.

Menjadi tampak kurang elok ketika kontrak dengan Baxo Axoy selesai, dan saya menyiapkan pendatang baru Bakzo Zakbo, lalu saya mengritik kenyal-kenyilnya Baxo Axoy di media sosial sebagai bakso gagal paham gigi — padahal konsep kenyal-kenyil itu dari saya. Betapa teganya saya. Tak hanya terhadap bekas klien tetapi juga terhadap karya sendiri.

Begitu pula misalkan saya sebagai ekspert baksologi akhirnya mengajar sebuah sekolah menengah tata boga. Kurang eloklah saya jika di linimasa berbalas celaan atas nama canda, bahkan bertukar guyon saru, dengan sejumlah murid karena orangtua siswa, bahkan tetangganya, juga ikut menyaksikan. Bahwa semuanya saya lakukan di luar jam belajar, bahkan di luar hari sekolah, masyarakat tak mau tahu.

Ini bukan soal jaim maupun hipokrit. Cuma soal “empan papan” saja kata orang Jawa. Proporsional sesuai situasi dan kondisi.

Euforia, kebebasan, dan kebablasan

Euforia media sosial bisa membuat orang kebingungan — termasuk saya tentunya. Kesempatan menjadi bintang lapangan adalah sihir yang menggoda. Inilah era ketika orang bisa membawa bendera yang bergambar wajah sendiri.

Ketika setiap orang merasa menjadi sentrum kecil dia bisa tergelincir untuk merasa bebas berkata apapun — sekali lagi termasuk saya (misalkan kelak beruntung mencapai tahap itu karena gigih berjuang).

Yang kemudian kebingungan bukan hanya perorangan. Kantor jasa komunikasi yang mempekerjakan para pemilik bendera juga bisa kebingungan. Bukan tidak mungkin sebagian bintang lapangan itu juga menerima titipan muatan pesan dari pesaing klien. Untunglah, jika menyangkut organisasi kerja biasanya bisa segera diatasi dengan peraturan. Belajar dari ketersandungan itu lumrah dan baik.

Penggunaan media sosial tidak bisa bebas karena itu adalah sebuah dunia terbuka. Sebagai jalan raya, media sosial dilalui oleh banyak orang. Sebagai taman terbuka, media sosial tak hanya diisi oleh mereka yang bersenam pagi dan meditasi tetapi juga para penyuka egrang dan papan luncur beroda. Mengurangi gesekan, apalagi tabrakan yang melukai, menjadi kepentingan bersama.

Ingatkanlah saya jika akan tergelincir. Misalkan kadung terperosok ke selokan, bantulah saya untuk keluar.

Tabik dan salam dari saya.

Pemilik BlogNgeblogbisnis,etika,facebook,foursquare,media sosial,twitterJUSTRU KARENA TERBUKA MAKA ADA PEMBATASAN. Saya mendengar rasan-rasan. Hanya dari beberapa orang. Bermain-main di Facebook dan Twitter tak mengasyikkan lagi. Bahkan di Foursquare pun begitu. Manajemen kantor masing-masing menerapkan sejumlah aturan mana yang boleh dan mana yang dilarang. “Reseh,” keluh salah seorang. “Nggak asyik,” kata lainnya di tempat terpisah. “Apa...Suatu atau sebuah blog?