↻ Lama baca 4 menit ↬

KETIKA DIBUKUKAN, SAMAKAH NIKMATNYA?

Misalkan penulis kicauan itu bukan Goenawan Mohamad, pengampu @gm_gm, akun yang diikuti 183.000-an pengicau, apakah juga dianggap menginspirasi pun menghibur banyak pengguna Twitter di Indonesia?

Ini jelas pertanyaan usil sekaligus kurang ajar. Tetapi tampaknya bagi GM, demikian namanya sering diabreviasikan, pertanyaan ini tidak penting. Bahkan dia (kita anggap saja) tak memedulikannya. Dia ngetwit karena memang ingin melakukan, dan menikmatinya.

GM menyebut kicauannya sebagai “clethukan” — sebuah istilah Jawa yang berarti ucapan spontan sebagai respon terhadap keadaan maupun ucapan orang lain. Maka kita juga harus paham latar waktu sebuah kicauan terlontar.

Celakanya untuk yang ini saya belum mencari tahu konteksnya: “I fight, therefore I tweet.” (buku Percikan, 12 Maret 2010, 19.10). Jika menilik rangkaian kicauan, dan kategorisasi dalam Percikan, saya menduga itu adalah pencanangan sikap dia terhadap media yang hanya mengemas ucapan spekukatif para tokoh sebagai wacana nasional.

Twitter, konteks, dan pemeretelan

Anda yang melanggani kicauan GM mungkin lebih paham konteks kicauan-kicauannya. Tetapi misalkan tak paham juga tak soal. Seperti halnya obrolan, Twitter yang terdokumentasikan di dalam maupun terlebih-lebih luar internet boleh dipereteli konteksnya, dan kita tak harus paham bingkai persoalannya — kecuali setiap kicauan diberi catatan kaki. :D

Dalam Twitter, sebagai sebuah ruang percakapan publik melalui teks, siapapun boleh nimbrung dan menyebarkan. Nyambung atau tidak, itu lain soal. Toh respon negara, atau representasi negara, terhadap masalah penting dan mendasar juga bisa nggak nyambung. Masa sih rakyat harus nyambung terus?

Hasil pemeretelan itu bisa berlaku untuk kicauan siapa saja. Sama seperti kita gemar mengutip ucapan, maksud saya petilan teks, dari GM ketika Tempo terbit kembali pada awal reformasi. GM berujar, “Kita tak dapat memonopoli kebenaran karena kebenaran juga ada pada pihak yang tidak kita sukai.”

Benarkah begitu ucapan GM saat menyambut penerbitan kembali Tempo? Saya hanya mengandalkan ingatan, dan bisa saja saya salah. Ketika mengutip itu pun saya tidak meng-googling. Saya menempatkan diri sebagai umumnya orang dalam menangkap dan menyebarkan kalimat sakti nan indah: tak harus melongok sumber asli. :D

Hal itu serupa saya dulu membeo kalimat Milan Kundera (tanpa membaca bukunya), yang penyebaran tuturan Indonesianya setahu saya dilakukan oleh GM dalam sebuah artikel yang saya lupa, pada masa Soeharto berkuasa: “Perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa“.

Tentang Twitter saya pernah menyebut, “…medium ringkas karakter memang pas untuk menyampaikan pesan, bukan wacana.”

Kemudian Totot Indrarto menanggapi, “Menurut saya seperti membandingan feature film dengan spot iklan 200 serial. Kita tentu mesti berdoa sangat khusyuk agar penonton kita setiap hari menonton televisi supaya bisa mengikuti dengan runtun dan lengkap semua serial iklan kita. :D” (Lihat Kopi69.com: Sering Ngeblog = Nyinyir Online)

Dalam ranah belantara kicauan melalui teks inilah GM (21 Juli nanti dia genap 71 tahun) punya tempat. Orang bisa mengutip dan me-retweet kicauannya.

Tak semua orang bisa seperti GM apalagi menjadi GM. Bahkan tak semua cendekiawan, apalagi yang sebaya, mampu melakukannya — termasuk (barangkali) kesanggupan dan kesiapan diri jika serial lontarannya dipenggal-penggal dan diceraiberaikan.

Hemat kata yang tangkas dan bernas

GM ngetwit sejak 6 Desember 2009. Sampai malam ini dia susah melontarkan 25.414 kicuan — sebagian tentu berupa balasan. Sebagian kecil dari kicauan itu kemudian dibukukan. GM menyebut buku satunya lagi sebagai epigram. Kita bisa mengartikannya sebagai lontaran singkat nan bernas.

Lantas bagaimana kita memperlakukan kedua buku ini? Boleh dan bisa kita baca secara melompat dari kicauan ke kicauan, dari bab ke bab, secara acak. Mata kita, pun intuisi kita, sebagai pengguna Twitter yang terbiasa dengan tuturan seringkas SMS dengan cepat akan mencari keterkaitan dengan kicauan lain, sebelum dan sesudah sepotong kicauan, sambil meraba-raba konteks. Di sinilah jasa editor. :-)

Pada buku kedua, Pagi…, kicauan GM oleh editor tidak diperlakukan sebagai pemindahan tweets ke dalam kertas, melainkan dikemas ulang sebagai bunga rampai percikan permenungan ringkas. Bisa Anda membacanya dengan nyaman dalam KRL maupun kapal terbang sambil sesekali mencoba mencerna lebih dalam.

Kicauan GM, seperti halnya gurauan dia, adalah hasil pengendapan literer yang mungkin bikin penat. Sejak kecil dia rajin membaca, sehingga pada awal 80-an dirinya dijadikan salah satu tokoh rujukan dalam kampanye gemar membaca. Ada foto sosok “Goenawan kecil dari Batang” (entah siapa yang menjadi model) dalam iklan display A4.

Tentang jelajah pustaka, dalam salah satu kicauan tentang Soekarno, GM menulis: “Bung Karno dan buku: ia datang dari generasi yang mencari dan membaca. Di Istana Bogor bagian dari pustaka itu masih utuh.” (Percikan, 7 Juni 2010, 22.12).

Juga ada ini, di buku kedua, “Buku memang sejenis makhluk yang harus dilindungi mungkin lebih terancam kelanjutan hidupnya ketimbang tokek dan ular sawah.” (Pagi…, tanpa tanggal, tanpa jam).

Tentang Soekarno tadi: “pustaka” atau “perpustakaan”? Mungkin GM berkompromi dengan dengan kuota teks Twitter. Nyatanya dalam jatah 140 karakter dia selalu bisa membuktikan diri sebagai pengicau ulung yang percaya kepada bahasa Indonesia: “Kita merawat bahasa Indonesia bukan karena cinta buta, tapi karena ia mempermudah komunikasi, dan ia sudah berakar dalam hidup kita.” (18 Mei 2010, 13.58)

Tentu GM tak hanya membaca. Dia juga berpikir dan menuliskan pikiran dan gagasan, pun permenungan serta karya lain (untuk beberapa puisi dan naskah pentas lihat di goenawanmohamad.com), terus menerus. Serial Catatan Pinggir adalah contoh yang kita kenal. Enak dibaca tapi seringkali tak saya pahami karena keterbatasan jelajah saya dalam peta pemikiran.

GM yang jenaka

GM juga gemar bercanda. Itu tecermin dari kicauannya, dari yang garing sampai yang kondisional secara politis. Yang garing sok naif misalnya ini, “Di restoran Prancis itu teman saya bilang: ‘Aku mau nyoba escargot.’ Saya tertarik. ‘Saya mau juga, ah. Tapi es-nya dikit saja.'” (Percikan, 3 Maret 2011, 21.42)

Adapun yang merespon kondisi politik: “Saya putuskan untuk tidak me-reshuffle baju batik saya. Tak ada koalisi yang cocok dengan celana.” (Percikan, 9 Maret 2011, 15.15)

Bercanda dalam tulisan tak hanya ditularkan GM saat membangun pakem jurnalisme Tempo (poster rekrutmen reporter Tempo tahun 80-an di kampus-kampus ada syarat “punya sense of humor“), tetapi juga saat mengasuh rubrik (kalau tak salah) “GM Menjawab” di majalah Zaman pada akhir 70-an – awal 80-an. Pembaca bertanya apa saja, boleh aneh, dan GM menjawab dengan jenaka pun cerdas.

Jadi kalau kita malas untuk membaca semua tulisan serius GM, atau sudah mencoba tetapi malah kebingungan lantas jengkel (karena tiada teman yang memperjelas), kedua buku ini bisa membantu memahami pikiran GM. Seorang cendekiawan bersedia melontarkan hal berat sebagai percakapan ringan untuk (dan bersama) khalayaknya. Cendekiawan masa kini “tidak berumah di atas angin”. :P Internet telah menyediakan lahan luas untuk persemaian pikiran.

JUDUL: Percikan: Kumpulan Twitter @gm_gm • PENULIS: Goenawan Mohamad • DESAIN & ILUSTRASI SAMPUL: Lambok Hutabarat • PENERBIT: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: 2011 • TEBAL: ix + 320 halaman • HARGA: Rp 65.000 • ISBN 978-979-22-7284-0

JUDUL: Pagi dan Hal-hal yang Dipungut Kembali: Sejumlah Epigram • PENULIS: Goenawan Mohamad • EDITOR: Dewi Ria Utari • DESAIN & ILUSTRASI SAMPUL: Lambok Hutabarat • PENERBIT: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: 2011 • TEBAL: vi + 193 halaman • HARGA: Rp 45.000 • ISBN 978-979-22-7285-7

© Foto Goenawan Mohamad oleh Antyo Rentjoko