• Lama baca: 4 menit →

POTRET INDONESIA DALAM “LEWAT DJAM MALAM”

Saya belum mendapatkan gambaran bagaimana respon masyarakat, dan media, pada medio 50-an terhadap film Usmar Ismail Lewat Djam Malam. Adakah yang merasa tertampar?

Film ini menampilkan cermin masyarakat Indonesia yang sebagai nasion baru tampak gamang meniti kemerdekaan. Revolusi hanya menjadi jargon, toh nyatanya bagi sebagian orang tak ada perubahan besar.

Pada tahun edar film itu, 1954 (lima tahun setelah penyerahan kedaultan dari Belanda kepada RI melalui Konferensi Meja Bundar), tentu saja saya belum lahir. Sambil menonton film Usmar (kredit di layar menuliskannya “Usmar Isma’il”) saya mencoba mengingat-ingat beberapa sosok pejuang yang pernah saya kenal sejak saya bocah hingga remaja.

Fragmen revolusi: tak sepenuhnya suci

Dulu saya beroleh kesan mereka, orang-orang sepuh itu, sangat membanggakan masa revolusi dan segala “perdjoangan” bahkan pengorbanan masing-masing. Sebagian dari mereka acap menggerutu bahwa kemerdekaan belum mewujudkan cita-cita berikutnya, yaitu masyarakat adil dan makmur. Nasib diri menjadi contoh terdekat.

Saat itu saya membatin, tetapi tak berani menyatakannya: kalau perjuangan memang tanpa pamrih, semata demi kemerdekaan, mengapa setelah itu sebagian dari mereka berharap  hal lainnya, terutama yang bersentuhan dengan peruntungan ekonomi dirinya sebagai sebuah ganjaran?

Dari cerita dan bacaan yang hanya sepenggal-penggal, saya mendapatkan gambaran bahwa masa revolusi bukan sepenuhnya perjuangan suci. Revolusi  juga bernoda. Itu suatu hal yang sulit saya pahami saat remaja. Terkabar setiap kali sekelompok laskar memasuki sebuah kota ada saja menjarah kantor pegadaian. Saat itu banyak juga keluarga Cina kaya yang menyimpan perhiasan ke dalam botol lalu mencemplungkannya ke dalam tangki septik. Dan kita tahu, sejarah juga mencatat adanya laskar berunsurkan begundal.

Kegagapan dan kegamangan seorang pejuang

Ketika “revolusi kemerdekaan” menjadi mantera yang untuk sementara mengikat kepentingan bersama, di sanalah persimpangan niat diuji. Dalam diri tokoh Iskandar (A.N. Alcaff), bekas perwira yang bercelana kaki komprang dan cingkrang seperti Tintin, kegamangan justru muncul setelah perjuangan dianggap selesai. Seturun dari gunung dia merasa asing terhadap masyarakatnya sendiri. Di sisi lain dia juga merasa terasingkan karena gagap dalam menghadapi kenyataan sosial masyarakat merdeka.

Iskandar merasa berhadapan dengan kaum mapan lama maupun baru yang sekadar meneruskan kenyamanan zaman kolonial dan menganggap eks-kombatan adalah orang aneh yang seolah mengharapkan privilese. Akan tetapi terhadap nasib dirinya, Iskandar yang pernah kuliah di ITB juga tak tahu harus bekerja apa. Meneruskan pemalakan halus (tak meminta tetapi tak menolak) seperti saat menangkap ayam penduduk desa, jelas tak mungkin. Untuk menjadi germo seperti bekas anak buahnya, dia tak bisa. Untuk menjadi penipu licik seperti bekas komandannya, dia juga tak dapat. Bahkan pusaran rasa bersalah karena menjalankan perintah eksekusi sang komandan terhadap orang tak bersalah ini yang membuatnya harus melawan diri sendiri.

Dalam penggal waktu yang lain, mungkin Iskandar seperti Soe Hok Gie pasca-1966: tak puas dengan “masyarakat baru” yang pembentukannya ikut dia perjuangkan. Pun serupa dengan beberapa aktivis 1997-1998 yang tak puas dengan reformasi dan penumpang gelapnya. Tetapi terus menerus menjadi gerilyawan di hutan dan demonstran di jalanan apakah layak, sementara sekian elemen masyarakat punya agenda masing-masing? Menjadi ronin jelas tak gagah, sementara masuk ke sistem — terutama partai dan kolusi bisnisnya — juga berkemungkinan terkooptasi.

(Tentang ronin, saya teringat kisah seorang eksponen Angkatan 66 yang mengandalkan uang harian dari memalak toko di Melawai, kadang membawa map berisi proposal. Nasibnya berubah karena seorang sutradara menemukannya sehingga dia jadi aktor, tetapi juga tak lancar kariernya karena semasa Orba dia menjadi anggota partai non-Golkar. Entah pede entah pongah dia mengakui dirinya bekas preman)

Teks pengingat pada akhir film, agar mereka yang telah menikmati “segala kelezatan buah kemerdekaan” mau becermin dan tahu diri sungguh menampar. Nyatanya buah lezat itu ada di segala babak kehidupan Indonesia.

Napak tilas Indonesia lama

Kalau kita enggan berpening dengan aneka tafsir, film lama yang telah direstorasi oleh banyak pihak ini menghadirkan potret Indonesia lama dalam gambar hidup. Asli dari zamannya. Bukan sebuah pendekatan retro dari sebuah film bikinan hari ini.

Misalnya? Ya arsitekturnya (bukan hanya bangunan art deco Bandung tetapi juga rumah kampung yang setengah tembok setengah gedek), ya interiornya (batik sudah menjadi dekorasi kamar, lampu gantung rotan dengan beberapa kap lampu), ya busananya (jelas, masih ada perempuan berkebaya; baju tropikal pria sudah dikenal).

Apa lagi? Bahasa. Lontaran dialog mungkin mewakili gaya bahasa zaman itu (mirip buku fiksi-fiksi lama), tapi saya tak tahu bagaimana gaya percakapan harian orang Jakarta (dan Bandung) saat itu, apakah dialek Jakarta sudah menjadi rujukan nasional seperti sekarang karena pengaruh televisi dan radio (sebagian besar penyiar radio di “daerah” itu berdialek Jakarta)? :D

Ada lagi hal tak penting tetapi bagi saya menarik. Penjual tiket sebelum menerima pembayaran mengingatkan saya, “Tapi ini filmnya hitam putih lho, Pak.” Semoga niat baik, atas nama pelayanan terhadap konsumen, itu hanya sekali terlontar, untuk saya.

© Sumber ilustrasi (tanpa izin) dari Blog Sahabat Sinematek

Pemilik BlogLihat Baca Dengarfilm,Kineforum,Konfiden,Lewat Djam Malam,National Museum of Singapore,Sahabat Sinematek,Usmar Ismail,World Cinema FoundationPOTRET INDONESIA DALAM 'LEWAT DJAM MALAM' Saya belum mendapatkan gambaran bagaimana respon masyarakat, dan media, pada medio 50-an terhadap film Usmar Ismail Lewat Djam Malam. Adakah yang merasa tertampar? Film ini menampilkan cermin masyarakat Indonesia yang sebagai nasion baru tampak gamang meniti kemerdekaan. Revolusi hanya menjadi jargon, toh nyatanya bagi sebagian...Suatu atau sebuah blog?